Demi Masa & Lembaran yang Hilang


suatu hari saya membeli cd Demi Masa yaitu album kolaborasinya Morgue Vanguard + Doyz , saya sebetulnya tidak terlalu sering mendengarkan musik yang bergenre Hiphop, tapi untuk karya dari Herry Sutresna dengan Homicide-nya dan Zack Dela Rocha bersama Tom Morello yang sering  melakukan scratching pada gitarnya di RATM, itu suatu pengecualian serta memposisikan telinga saya untuk menjadi nyaman mendengarkan alunan nada yang dikemas dengan genre hiphop.

CD itu saya beli di Grimloc yaitu di jalan kartini no. 21 Bandung, itu CD saya beli tidak ada liriknya, hanya lembaran-lembaran berisi foto zaman dahulu dengan disisipkan sedikit kutipan-kutipan / quotes di setiap fotonya itu, yang kalo tidak salah setiap foto itu berharga Rp.1 juta per-fotonya, itu saya tidak sengaja mendengar Macok alias Mang Ucok saat sedang promosi album Demi Masa di Radio Oz Bandung, tapi untuk nominal nilainya foto-foto itu saya kurang tahu, mungkin saja foto-foto itu nilainya tak terharga, apalagi untuk yang berkecimpung di skena hiphop, foto sampul CD nya saja antik, menggunakan foto sebuah grup sedang breakdance, terlihat lokasinya itu seperti di pasar, dengan berlatar belakang motor RX - King si raja jalanan ngoeeeeeeet.
okey CD ini karena tidak ada liriknya, saya menanyakan ke Macok alias Mang Ucok lewat akun twitter pribadinya dengan username @lord_kobra
kenapa doi pake username @lord_kobra? apakah kobra itu mungkin artinya Kolot Bragajul?  saya kurang tahu, tanya saja sendiri.
saya lanjut menanyakan kepada Mang Ucok, kenapa ini CD ga ada liriknya? kan lumayan saya bisa karokean kalo ada liriknya, atau apakah liriknya diposting di situs Grimloc? ternyata Macok alias si Mang Ucok menjawab, sebetulnya liriknya itu ada.
oh jadi ada lembaran liriknya, cuma selembar, tapi mungkin jatuh, atau lupa ga kemasupin si lembaran liriknya.
kemudian Macok menyuruh saya untuk berkomunikasi dengan akun Grimloc perihal minta dikirimin lembaran yang hilangnya itu, setelah itu Grimloc langsung mengirim lembaran yang hilang itu.
sebetulnya lembaran lirik yang hilang itu sudah dikirim dan sampai dua bulan yang lalu, tapi baru kemarin malam saya memasukan lirik ke lagu-lagu di album Demi Masa ini.
sekalian saya posting di sini ya liriknya.


Morgue Vanguard + Doyz
Demi Masa

JUNTA TITIMANGSA
[Morgue Vanguard]
catatan kaki pembakaran dengan amunisi berlapis
boombox yudha vertikal hingga babylon paralisis
di hadapan waktu yang menipis, bakar jembatan di belakang pegang kalam bagai parang
di belantara rima kopong dan omong kosong

catatan historis di depan altar Nekropolis rapal mantra perubah despot menjadi seonggok rigor mortis
meski berulang kali utopia terkikis
serupa mendengar Forgotten bermain di acara rasis
tetap berlabuh meski temali rapuh, berkali jatuh tergerus arus yang terus meminta patuh meski nafas di paru hanya sisa separuh kepalan tinggi di angkasa hingga akhir megatruh

[Doyz]
melekat birama di medan martil dan gada
sepekat aroma kemenyan memanggil arwah
durma resonansi azimat penyair yaumudin
rima nekromasi hasrat Munir dan Udin
kohesi integral dua unsur optima
kompresi koronal kawah pemancur bisa
konsorsium kontradiksi kumur pagebluk
ini imperium kontra-fiksi kubur penakluk

bagi garda terdepan
barisan barikade
setiap yang bertahan
para penyulut sekam
para penjaga menara
para pelontar bara
para penjagal senyap
b-boys, b-girls
angkat kepal di angkasa


[Morgue Vanguard]
yes yes yall, Nekrophone Funk!
jangan tunda melepas angkara berjelajah karena hari esok memiliki ruang hampanya sendiri yang memadamkan api, MV-Prime Minista Doyz, wont stop ‘til breakadawn, rock on

oplos vodka dan dolorosa, amal dan dosa
di atas boombap kami mencapai moksa
berguru pada semburan bisa dan saloka
dari zaman overdosis Illmatic adalah doxa
ronta prosa yang membangkang pada metronom kota yang dirancang tumbuh para ekonom
dari Rakim rima ini berkromosom
mengakar serupa kejahatan di kemiskinan tak tertolong
ayat-ayat pelopor kamar mayat
doa pelayat era “Top Billin” jadi lagu ulayat
pengantar sajak palak macam modus aparat
paydues amanat dari penggalang hikayat serupa Rap-A-Lot
manifes mufakat AK Press dan Cold Cut
dari Grandmaster Flash dan punk serupa Copout
gore senyap serupa kudeta Pangkostrad
arsenal rima gabungan Big Pun dan Kronstadt
MCMV, raw analog NTSC
murid D.O.C, E.N.T, Madilog dan C.N.T
Verbal Homicide, representasi rap desingan peluru 13 November di Semanggi

[Doyz]
Yo, MV.. masih ingatkah saat kita pertama merasakan udara beroksidasi? Saat pertama pena beriris kalam menyentuh nadi? Ini adalah rentetan kilas yang melacak jejak api

paparan kilat lampu kamera
samarkan kiat-kiat bersumbu lentera
tinggalkan arus utama formasi solo
gerilya bawah radar sebangsa CIA di punggung Harto
anomali rima monstera
merambat alam pikir pasca Dela Rocha
jatuhkan bombtrack semagis klenik cendana
distorsi dope track melapis kronil skena
kalam magnetis, restu dan fatwa rap okultis
malam baptis berbagi mic dengan Arsonists
ilham puris bangun prosa setinggi polaris
langgam esoteris di era 5 silabel di 1 baris
tatap eksistensi dadakan serupa barista
tantang asistensi ajaran berupa bar nista
intensitas avontur diksi di satu tarikan nafas
frasa hurikan hempas rakitan kata seringan kapas
selihal Federal Reserve meniti abad
konsistensi pemutar ulang rotasi jagad
alirkan venom tanpa urat bagai MF Doom
yakinkan rapal dewa tak butuh polesan auto-tune
[Morgue Vanguard]
Thats how you kick tha mad flavor, Doyz. Boombap antidot permanen dari kebosanan agitasi dalam bahasa raungan sirine Bomb Squad delapan delapan
Yo Evil Cutz, gasak rotasi baja seperti Roc Raida punya era

[Morgue Vanguard]
esok akan terlalu terlambat, di depan tengat yang merambat
waktu tak pernah berhenti meski jumudmu merapat
meski hasratmu sekarat, dan kehabisan kerabat
meski terbaca gelagat penamu mulai berkarat
teruskan zaman beramanat, melontar bait granat yang memberi marka pada almanak
yang mencatat kalam tandingan dengungan lalat
eyo Doyz, beri rentang kurun waktu ini bait perahmat
[Doyz]
hayat santri seremoni pondok Zulu hingga Deltron
hikayat hereditari horison para epigon
jaga marwah Cold Crush Brothers, & MC Shan
kelokan pena bernyawa donor diksi langitan
3 dasawarsa awas membakar pagar
pengurung waras dalam pola pandir nan melingkar
macam invasi rezim despotik
kami hapus jejak invensi boombap generik remeh dalam berlirik

[Doyz]
yes yes ya’ll, rap yang bersinonim dengan senapan otomatis sejak pita kaset kanon Godzkilla dan Perspektif dirilis, boombap pengingat marka pada hitungan ritme metronom tinggi jantung waras.
Doyz MV, dua ribu delapan belas’til infinity ya’ll

[Iwa-K]
Introduction Can’t Stop D’Bumrush Radio

[Morgue Vanguard]
funky fresh force, cold medina. MCMV is in full effect. behind the deck i got my man, E. born to get busy, wreck shop like his name was Too Tuff in ‘89 and we’re gonna do it like this yall
DJ-E di dek pasang track keramat semacam blast granat tangan pada mess Paskhas
di atas breaks ganas pertanyakan bos macam Elpamas
rap laten panas insurjen merangsek Dalmas
gas larik locos lawas judi porkas
bajak klasik macam intel potong kompas
ikonoklas macam tarikh hip hop berontak
terobos trah prosa mortar sebar noxa
buckwild sejak era korup Mobnas
kausa onar bak manuver Mossad
macam tes jimat, mabuk depan gerbang Kostrad
tabur bensin sekeliling markas ormas
kontrol pecun macam kalian semua hafal
b-boy windmill di atas panas aspal bars terapal dengan murka PHK massal garda berlapis macam jaga tambang jenderal
rap carok sebarak cyclops di atas instrumen barok bak Air Hitam rancang amok
hiphop eskalasi industri sawit merampok
budaya tinggi macam tradisi senggol bacok
staff pimpinan yayasan krematorium
bakar gosong mayat skena di atas podium
Hery-Hadi dobrak avant macam Khadafi
lusinan gerombolan MC pelir kami hadapi
my man Jay you know you rule hip-hop
Iwa K you know you rule hip-hop
Hellhouse you can rule hip-hop
Def Bloc Posse, we rule it non-stop yo

like this like that, coming up next the full metal jacket rap shit, the so-so def The almighty fresh Prime Minister Doyz show ‘em how we doin damage, yall

[Doyz]
menyintas fitrah sejak poros BMX Bandits
sebangsa bromocorah lolos operasi celurit
nonstop rakab Departemen Penerangan
hip-hop buka dokumen kegelapan
modal kardus kami long march sampai Monas
dalih olah badan macam daging olah Pronas lewat gurat aerosol kode tawur dikirim
durma sejawat yang diseret ke markas Kodim
rap & hi-top hirau Endang S. Taurina
menyergap pop, kala rentang cakram Selekta
menghantar tenggak racun bak orkes moral Johny Iskandar geratak panggung kultural hingga kini
borgol tim Buser sergap dari Kijang Super
simbol rezim angker didera rima panser
sedramatis Basri di tiang gantung pasal dadah
literasi kami arung di titian musibah

[Morgue Vanguard]
thats how you do it, E
take ‘em to the days of Headbanger
mad salute to EPMD, sucka DJ’s beware

komando sentral rima baja kelana, usung penanda germo-raja berdansa seirama
menata kata-kata perajah menara bala setara pengontrol para domba yang elit menggembala
dominasi udara macam siar niaga radius radio Radius Prawiro, terjaga pada hentakan DJ Polo dan Kurtis Blow
bawa bencana massa semacam Wiranto
puja puji kami bagi seorang Voltus
tetap berdansa saat seisi kota exodus
gaspol operandi punya modus
bertubi berulang sampai kami punya corpus
hiphop era Kompas jutaan tiras operasi dadakan bocor macam razia miras
tak ada drum machine, tak punya studio
tak punya MPC, dan tak ada jalan pintas

namun itu semua bukan alasan,
karena breaks adalah bensin dan MC adalah arsonis
kami bakar bentang hari yang tergadai di depan polis sejak pentagram diusung intelejen menari Morris. Hip hop demonologis, panggil kami mic-check eksorsis

[Doyz]
berangkat dari kejumudan lorong-lorong kota kapital
perangkap kaki ke gugusan omong kosong nota radikal
yang dirancang rezim pemuja mistik
tangsi cincang dan para penculik
jabat penyelamat imaji di 85 hentak skena di 93
bermodalkan hasrat untuk menyintas
gandakan harkat dalam prosa ku tampuk karitas
bagikan tuk para perima miskin imaji
dalam gelap kerap merancap kelamin sendiri
serupa Anakin, bawa keseimbangan
ku rupa Serafin senyawa kesengsaraan
pasak batu kuadriliun sempal aksara tuna-kontur
gasak satu legiun perapal mantra rima kumur
demolisi kota diksimu sebangsa Hancock
ini bukan kelas senior tanpa discog
diksi tingkatan paripurna
hegemoni adiwangsa
tanpa medusa kau membatu hingga medula
Doyz, MV digdaya integra

[Morgue Vanguard]
thats how its goin down yall, dedikasikan bagi bentangan zaman yang dibuka Turbo menggasak windmill
fresh for ‘89 you suckaz

[Morgue Vanguard]
mic check 1-2…Yo! ini adalah hikayat bentangan rima dan gedoran 808. pasca gelombang tari kejang pertama menyapu Jawa. perihal kalam yang tak lekang oleh hujaman waktu oleh kealpaan masa dan amnesia kewarasan semesta. yo Doyz, testify…

[Doyz]
antara himpitan kejenuhan akan sendunya muka Tuti Aditama
serta mimpi kepemilikan Diamond Back edisi ’85
terbitlah bocah dari sempitnya mukim padat Jakarta
lupakan siaran niaga, jargon dekade ini Gejolak Kawula Muda
pahlawanku Turbo, bukan pesulap kurikulum sebangsa Nug Notosusanto
mobilisasi barisan trend di sela lawakan Gepeng
dan anak kolong Menteng acungkan beceng
dari Setiabudi, Tosari hingga Senayan
menjadi B-boy hanyalah sebuah impian
kandas di atas aspal keras lapangan Monas
laksana suara rakyat lawas yang terampas
lalu ku sambut PE dan Run DMC
hero baru datang sebagai penyelamat imaji

Hip Hop was set out in the park
we used to do it in the dark

[Doyz]
langit rima kami lukis, jadikan katalis, leburkan tangis hasil opresi rezim Orde Baru dalam gerbong ritmis, layaknya Soekarno jargonkan jas merah, ini adalah sebuah momentum dalam sejarah, ay-yo MV! bukankan kontinuum waktu!

[Morgue Vanguard]
melacak balik jejak boombox bernyawa di 83
memori lapangan volley, anatomi senapan rima
riwayat prosa penebusan kontra-berhala
menyambat ronta dentuman speaker sebesar jendela
generasi yang banal lahir dibawah tirani Harto
berhutang inspirasi pada Moonwalk Septian Dwicahyo
di era LL Cool J merilis “Radio”
dan tivi didominasi omong kosong pidato Harmoko
serupa preman delapanpuluhan yang bertahan di era Petrus, rap membawa dupa berkawan dengan harkat bertamengkan hasrat
berkalang sebarisan penjaga nalar dan waras
mempelajari Rakim, Kool G Rap, menghitung bar
PE dan militansi rima yang berkobar
hidup yang tak pernah lagi sama, pasca semasa
Straight Outta Compton dan Raising Hell datang menggantang menebus serupa Karbala

Hip Hop was set out in the park
we used to do it in the dark

BUCKSHOT FUNK (feat. Mr.EP & Sarkasz)
[Morgue Vanguard]
Bars of Death-Blakumuh, 22-21 garda rima nasional dan satuan arsenal rusuh, wreck shop mothafuckaz.

[Mr.EP]
panggil aku Freddy Krueger lengkap dengan Luger
sajian Hitler, kusiapkan sebuah trigger
ramaikan Kurusetra keluarkan skill bersama
Rima Ababil bersanding Tinju Di Angkasa
tinggi di atas angkasa selalu siap hempas butana
kami berbahaya kalian hanya tombol bahaya
mainstream kalian berbungkus mecin
terlihat banyak toksin kalian butuh kami sebagai vaksin (fuck scene)
ini bukan Jaka Sembung Barry Prima rima
ini episode Johnny Indo flow dengan gada Bima
perkosa metafora buat kalian terkesima
kubuat kolosal agar kalian bisa terima
kami kumpulan profesor dengan protektor
kirim bad signal lewat proyektor tanpa pro sektor
buat kalian para pecinta pena baja
ini SOS dan Rajatega

[Sarkasz]
Morbid Funk kanuragan Alex Bergman
di pancaroba kewarasan warisan SS Jerman
seperti memilah preman di lorong lapas Sleman
sebut kami Don Corleone dalam seni membakar setan
Sarkasz MV disinfektan, rilis methan
astronot frasa, serupa Rakim membius masa sepanjang eretan
Barbarossa matador pancasona dalam elan
metamorfosa Dorna, tamsir dan mata Konta pada medan
diaspora kontra konspirasi Oculus
MC karnivora serupa hikayat Romus dan Romulus
berdiamat di Olympus bersama Tiamat dan Neptunus agar luka binasa dan murka kiamat tetap terhunus
kami paksa Odin meronda di Swargaloka
hingga logika kodim meronta di kanvas Lamotta
ini Bossanova Rasputin perompak nahkoda
prosa moksa pangkas Putin hingga mahkota Nak Sokha
[Doyz]
Baris Kematian, Kaum Kumuh sandingkan wacana
kepung sistem kecerdasan buatan pandir kata
dalam tingkatan monumental bangunan diksi
dalam bagan sekontroversial Salman Rushdie
pengeras suara kami lapiskan baja, sertakan bara
buat perima selembut kalian sinyalkan tanda bahaya
gaungkan ke semesta monokrom
di mana rapal kalian butuh metronom
guratkan rima seolah sedang berkelakar
himpunan talenta yang kalian unggah kami hadang di selasar
situs para pemuja mumble rap ahistoris
kakus para penggila battle rap magis
tak butuh kultus maupun status
paradigma kami adalah magnum opus
jika kalian bintang, kami lah galaksi
ikrar ludahi microphone hingga tak mampu bernafas kembali

[Morgue Vanguard]
Los Barrio Pobres y Barras de Muerto
manifesto Neraka Jahanam macam Duo Kribo
menyambat kombo acid inferno Ricky Kasso
dan legacy epik macam Deddy Stanzah dan Cikaso
entropi larik Katastrofi yang mengutip pidato Castro
desperado perang Sampit, ular derik dan Gatoloco
kami fatbeats kolestrol, kalian hiphop sakarin
kami graffiti Banksy, kalian Instagram Awkarin
kami kaji kamikaze sampai kami tak bisa mati
taji kami hasil uji oplos Ice-T dan Dewi Kali
murid asuhan rembulan yang berbulan mempelajari filsafat tumbuhan karnivor dan persetan ilmu padi
dengan bars neraka potongan baja jeruji penjara
prosa huru-hara sampai sultan kirim bentara
peruntuh menara, membuat upaya kalian kentara
sia-sia macam melawan doktrin di markas tentara

bewara untuk skena yang menghasilkan omongkosong lebih banyak dari Nawacita yang menebar aroma setara kampung kota tanpa sanitasi, back the fuck off you dumb bitches

ROTASI BAJA
(Interlude)

DI HADAPAN BABYBLON
birama terobos kulit kepala
serupa kepingan bara menyala
di dekade marabahaya
serupa ronta di Rojava

[Morgue Vanguard]
belati rima topan halilintar dan pelangi dan embun pagi yang berjanji menyayat nadi tirani
bersepakat beraliansi dengan api kalam yang kan bertarung sampai seribu tahun pasca ku mati
bernazar pada hujan, kumpulan yang terbuang yang berhutang jalan pedang pada hidup yang tak bertuan
reruntuhan gusuran, kepulan dan kepungan remukan harapan palagan yang dilupakan zaman
macam luka tusuk Meyer di depan markas Kodam
murka kutuk mereka yang berbaring di selokan
di malam barikade dan peluru berdesingan
di ujung musim kudeta para tiran bergantian
di setiap perang yang tak akan pernah kita menangkan di hadapan babylon kalamaut berkelindan rima bagi mereka yang sehormatnya melawan
sisa waras yang bertahan macam posko Padarincang

[Randslam]
bagi barisan mereka yang bersatu pada malam yang kelabu tempat nasib kan beradu
takkan mati jadi dadu di hadapan serdadu
invasi kolosal operasi terpadu
mangsa keadaan rezim masa perampasan angkat kesadaran meski depan kekalahan babat di hadapan, barisan sombong muka doa pagi dua jari untuk Poro Duka

[Doyz]
hidup di belantara monitor laku dan simtom
hirup udara di antara karnivor satu sindrom
berbondong abaikan eklips rancangan para fantom
menyongsong apokalips dalam semesta monokrom
jelajah kosmos kerabat yang kini bertikai
dengan fiksi epos populis sebagai perisai
melihat batas kalut rombongan tercerai-berai
berakad meretas taut kawanan pengabai
di lintas deresi berkerumun kenaifan
berkeras menepis gumpal halimun di pandangan
kabarkan peran sauvinis industri ketakutan
prosa konten krisis tak kan henti kami wartakan
di bawah godam para penyandera kotak suara
merekah geram penuai bala kotak pandora
di hadirat jakal pencabik daging domba
sajak ini perewa pekik disonan kontra-binasa

[Randslam]
bagi barisan mereka yang bersatu pada malam yang kelabu tempat nasib kan beradu
takkan mati jadi dadu di hadapan serdadu
invasi kolosal operasi terpadu
mangsa keadaan rezim masa perampasan angkat kesadaran meski depan kekalahan babat di hadapan, barisan sombong muka doa pagi dua jari untuk Poro Duka

[Doyz]
itikad membuka gerbang arsenal kosa kata
itihad penjaga arang bara tetap menyala
di ambang menara pengawas kastil Nosferatu
ku bariskan rima pemartil batil ke atas tandu
laksana abaka membalut gagang belati
asana gahara memagut malang sehari panas seakut geram di titik arteri
tiada pantas takut diperam membidik afeksi

[Morgue Vanguard]
resonan teladan Garongan yang tegak di hadapan
gempuran penggusuran kombo CEO dan Sultan
kabar seruan dari palagan terlupakan lanskap bertahan dari bala pelumatan panggil ulang urjensi punk serupa Rondos
serupa warga Baros membakar beko dan pos
kurancang rima Ababil yang bidani holokos
jika kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos

[Randslam]
bagi barisan mereka yang bersatu pada malam yang kelabu tempat nasib kan beradu
takkan mati jadi dadu di hadapan serdadu
invasi kolosal operasi terpadu
mangsa keadaan rezim masa perampasan angkat kesadaran meski depan kekalahan babat di hadapan, barisan sombong muka doa pagi dua jari untuk Poro Duka

[Doyz]
di antara kealpaan pada cetak-biru ekonomi tata dunia baru, yang memaksa kita berjibaku, paruh-waktu, purna-waktu.. lusuh di sepenuh waktu, dan merubah anak kita menjadi yatim-piatu, ikrar tantang gerutu kata bagai menyergah
kita pantang berlutut kala badai menerpa


[Morgue Vanguard]
yo Doyz, man. my mic sounds nice check one
boombap para wali, yang mengiringi kalam milisi, dari mikropon yang dicengkram menahun, serupa tambang para jenderal di Morowali.
you know what time it is…

[Doyz]
garda negara terdepan datang menghajar, ratakan badan dan ladang di kala fajar
aroma ban terbakar beserta para demonstran
yang terkapar berikan kabar
tentang kehancuran asa dari berbagai lini
tentang kematian kurawa sejati dalam teori demokrasi
melindungi dan melayani, merundungi dan mengkafani
ekonomi yang dimonopoli, giring kami jadi supir taksi
Trias Koruptika, di republik milik tentara
definisikan habitat kami ke dalam dua kriteria
kotak pungutan pajak dan suara
riuh gaduh ampunan pajak dan pilkada, untuk apa?
perampasan lahan secara simultan, untuk siapa? konsumsi sinetron kopi sianida yang berkepanjangan
sinergi monoton massa overdosis agama haus akan pengkafiran
pahlawan dan panutan palsu penuh skandal
politikus & selebritas selaras bersujud di atas altar feodal sudi dianal oleh imperialis lokal
masuknya ribuan tenaga kerja ilegal, amdal abal-abal, dan kekacauan elektoral
adalah sinyal dari supremasi tiran pemodal

[Morgue Vanguard]
bagi mereka yang mempertahankan ruang hidupnya dari ujung barat hingga timur, di mana bentang solidaritas bergaung sekeras
fabrikasi kebenaran a la rezim diusung tarik garis demarkasi

mendaras rima kontra derap sepatu lars dan popor laras senapan yang mendarat pada paras
di atas dentuman boombap bernyawa menapak tilas
jejak penyintas yang absen tercetak di koran berjuta tiras
yang merampas urjensi dan raungan sirine
yang merampok substansi dari tangsi rima dan ritme
periksa ulang relasi usang politik ruang
provokasi uang manuver para agen properti bermain peluang
periksa ulang setiap blueprint dan peta konflik
siapa yang berada di belakang kendali setiap intrik
mesin uang dan politik, hukum dan pemilik koran, TV, ormas, laskar, tuan hakim dan penyidik
selidik tanah yang dibebaskan bagi karpet merah para pelaku industri lahan sewa dan pasar mewah pabrik sepatu
matrix terpadu dengan buruh yang takkan pernah mampu
memiliki tubuh tanpa peluh yang setiap subuh meregang saku
simpan doktrin kalian soal cinta tanah air
bagi mereka yang tak punya tanah dan selalu membeli mahal air
bagi mereka yang terusir dan menjadi martir
saat nasib dipaksa parkir di bawah cakar Garuda dan berakhir hidup di bawah tanah serupa Moria
di bawah angkara aparat yang tercatat
sejak Rotor dan “Pluit Phobia”
hingga tiba di era ekspansi menggurita
terekam oleh WatchDoc dengan kamera, yo Doyz, T.D.A

[Doyz]
tinju di angkasa, untuk mereka yang sagunya tergantikan sawit di Papua, untuk mereka yang terhimpit tambang liar di Bone, Sinai, hingga Gowa, masyarakat adat, Petani Langkat, mereka yang mempertahankan konservasi di Teluk Benoa, hingga mereka yang dihujani serbuan bulldozer di ibukota.. Keep it real

[Morgue Vanguard]
bagi mereka yang bertahan di Rembang dan Pati, di hadapan rezim Bandara di WTT dan Majalengka, di bawah ancaman tambang di Kulon Progo, Lumajang, Sumatera Utara, Karawang, Jambi hingga Bangka, di bawah bedil di Urutsewu dan Bima, di hadapan rezim konsesi dari Indramayu hingga Moromoro, yang bertahan di hadapan PLTU dari Batang hingga lereng Ciremai, dan di sudut-sudut kampung kota yang digempur penggusuran, kabarkan


DEMI MASA
[Doyz]
masa masa terlahir dalam sahaja
pancaroba terakhir salam angkara
ceceran kilasan di atas tilas
bersanding dengan jajaran gagasan berbalas culas
penyintas semesta ruang dan waktu
melintas di antara semua kubang laraku
memori panas semusim di Rural Sydney
antusias pemukim dan sundal silang birahi
mufakat khianat di kamar gelap
muslihat rebut maslahat dalam makar senyap
runut suara asa yang lengang terhalang palang prahara
tuntut paksa galang ulang prasangka
tiada aura kebersamaan
di setiap kemasan pembungkus kain kafan
selayak diri terbujur di liang lahat
dikoyak sepi terkubur di lubang bertanah padat
saat ayah berpulang tuk jelang fase ketiga
tersisa payah dulang air di rentang oase logika
ajari aku tuk menafsir makna keberadaan
esensi baku di ufuk barat kehidupan
kawan sejati tak lari ia dicari
teman sehati tiupkan nafas sekali lagi
hingga adiwarna hadir berlipat ganda
asa mengambang di raga jelang swastamita

[Morgue Vanguard]
pesan yang disampaikan taufan pada badai
serumpun
“larilah ke dalam kesendirianmu” ia berpantun
tidak kah kau dengar dengung lalat berkerumun
mengajakmu bergabung pada sengkarut qanun pemasung
demi masa, waktu terbuangku tak terhitung tak akan ku ulang meski limbung di dasar palung macam harap yang kami gantung
pada utopia menggunung diarak mendung jauh ke ujung utara kota Bandung
demi setiap doa pada setiap Kamisan tak semua kepergian harus diiringi tangisan
janji kami merekam zaman hingga waras penghabisan serupa nyala Ginan dan pijaran bara Sebastian
tak semua ingatan tergelap datang beriringan dengan angkara bahkan di sana letak kita menyimpan peraduan kesenduan yang dititipkan hujan
yang dihunus kala pedang tak lagi berguna di pertempuran seiring kobaran padam perlahan datang waktu kalian lelah menagih janji teman
muak pada penundaan, murka yang terjinakkan
lelah menghitung jumlah detik yang tercampakkan
tak membiarkan hidup hanya selewat mampir di gugusan
berakhir ditenggelamkan keputusan-keputusan dengan sedikit bisa tersisa dari ordo pancaroba
kubuatkan kau peluru dari setiap jejak langkah kunjungan

dari pusara sahabat di Sirnaraga,
di seberang Terminal Dago
di bawah lampu jalan di Wastukencana,
di bawah langit tosca.

[Doyz]
jalani rentang lintasan waktu
hadapi rintang kehidupan aku
bernafas tuk mereka yang bertumpu di hadapan
daras lafal sisa umur tanpa penyesalan

[Morgue Vanguard]
yang akan kami biarkan terbakar sebelum meredup…, jangan tunda melepas angkara berjelajah karena hari esok memiliki ruang hampanya sendiri yang memadamkan api

hidupi puisimu, kamerad



SANS TEMPS MORT
(Instrumental)/outro


Rights owned by the artist respectively,
All Fights Deserve.


DIKETIK/DI/BDG/02/MEI/2019

dkmgn

Comments

Popular Posts