Gradasi
semua bermulai dan harus untuk bergerak, melihat kaca-kaca itu aku mengerti oh itu dia kebalikan dariku, jika ada yang berkata menyapa "ngaca dong!" itu adalah refleksi kebalikanku, mengapa? itulah kaca, itu refleksi yang ada didepannya. bukan cerminan diri, melainkan kebalikannya dan itu adalah sisi diriku yang kosong agar tetap seimbang.
oke, aku keluar rumah untuk menghirup udara, aku sangat tidak nyaman dengan udara pagi, makanya ini jam 1 siang aku baru keluar, tak lupa minum kopi dan mendengarkan lagu dari caspian saat tadi masih dirumah, sekarang aku tidak mendengarkannya, karena apa? karena tadi aku sudah dirumah dan sekarang diluar rumah. aku berencana menemui kawanku yaitu namanya Cindy, dia seorang wanita yang sangat gemar akan teknologi terkini, pokoknya dia sangat mengikuti perkembangan tentang teknologi, ketika aku bertanya waktu itu saat kami nongkrong diwarung kopi Pak Ehon, dia sempat bilang "biarkan produk-produk teknologi itu semua naik daun, kita sebagai Pengguna Terakhir harus naik mobil biar cepat sampai."
oh itu dia angkot jurusan dago ada, atau jika diperpanjang menjadi "oh itu dia angkutan kota jurusan kelapa - dago sudah ada, saatnya aku naik ke mobil tersebut agar aku dapat bertemu cindy". setelah aku masuk aku duduk dibelakang, dikarenakan dipintu depan sudah ada yang menempati yaitu seorang manusia berupa Ibu bersama anaknya kira-kira berumur sepantaran dengan anaknya si Permana temanku, tidak tahu pokoknya masih kecil. biasanya aku duduk didepan, dikarenakan aku bisa sedikit leluasa untuk merokok karena tidak berhadapan langsung dengan penumpang yang lain, melainkan membelakangi. sekarang aku duduk dibelakang dekat kaca belakang tapi merasa didepan mobil yang dibelakang mobil yang aku tumpangi. didepanku ada dua manusia berbentuk Ibu - Ibu dan satu manusia berbentuk Wanita berseragam sekolah sedang asyik memainkan HP -nya, dan si Ibu sedang asyik mengobrol dengan si Ibu yang satunya lagi. sebenarnya aku ingin ikut ngobrol dengan mereka, tapi obrolan mereka aku ga mengerti, mereka begitu asyik mengobrolkan tanpa aku mengerti apa yang mereka bicarakan, mungkin obrolan mereka sudah di enkripsi, sehingga saya tak bisa mengerti. atau mereka itu mata - mata?
ah sudah lah bodo amat. enkripsi? oh iya aku jadi ingat pada saat itu, pada saat aku masih kuliah dulu, aku pernah bertanya kepada dosen matakuliah apa itu namanya aku lupa, yang dimana mata kuliah itu membahas tentang agama, sebut saja mata kuliah Agama, dosen agama itu persis seperti Cindy dalam hal teknologi. Dia sangat menggemari teknologi, "jangan ketinggalan zaman dong, Bapak juga selain mendalami agama tapi mendalami teknologi juga" begitu kira-kira katanya ketika mengetahui si Mul teman kelas ku ketahuan belum bikin akun facebook. saat itu aku pernah bertanya kepada Pak Sharon, iya itu nama dosen agama di kampusku, dan aku lupa nulis didepan.
saat itu sedang membahas tentang Nabi yang diberikan wahyu, yang pasti bukan wahyu temanmu. tapi wahyu yang dibahas oleh dosen ku. mahasiswa bertanya kepada dosen, disini aku sedang menjadi mahasiswa dan Pak Sharon sedang menjadi dosenku. aku bertanya, dikarenakan ada sesuatu hal yang aku anggap menarik untuk aku buat sebagai skripsi ku nanti, oh iya aku mengambil jurusan sistem informasi dikampusku maaf lupa lagi nulis didepan. pada saat itu aku menanyakan, "Pak kalau seandainya memang benar yang pengasih wahyu itu adalah zat inti, dan dia menyuruh zat cahaya untuk menyampaikan wahyu kepada zat tanah, mereka menggunakan enkripsi berapa bit Pak? itu bagus soalnya jika enkripsi itu diterapkan di sistem keamanan informasi Pak!" teman - teman sekelasku malah ketawa, aku padahal lagi serius. Pak sharon juga malah ketawa dan mengucapkan " Hahaha Aya - Aya Wae! si eta mah! hahaha!" (dasar Lu, ada - ada aja). padahal aku menanyakan apa yang aku benar - benar ingin tahu, tetapi mereka malah ketawa, ya sudah gak apa-apa aku lebih baik tidak menanyakan hal tersebut, ketawa bagi ku jawaban yang masih bisa diterima daripada aku mendapatkan jawaban Hanya Tuhan Yang Tahu, maka aku dan semua yang ada dikelas pada saat itu akan dilanda dengan kebingungan karena memposisikan Tuhan adalah matahari, matahari yang terlalu kuat untuk dilihat, dan matahari yang terlau menyeramkan untuk didekati. aku butuh cahaya, tapi aku juga butuh gelap, aku tak butuh terlalu lama melihat cahaya karena bisa membuatku buta, lebih gelap dari seseorang yang berada di kegelapan dan mereka masih bisa mencari korek api, sehingga korek tersebut apabila dinyalakan dia yang berada di kegelapan tersebut masih bisa menikmati manfaat cahaya. sedangkan aku jika buta? tak bisa menikmatinya, meskipun aku sedang berada disitu diwaktu yang sama.
oh aku sudah sampai di simpang dago, tinggal turun dan jalan secuil untuk ke rumah cindy. saat melangkah aku dipanggil karena apa? karena aku lupa bayar, iya aku bayar. aku sudah sampai di rumah cindy, aku bertemu dengan Ibu nya;
"Bu, mau ke Cindy" aku menyapa sambil kucium lawannya telapak tangan yang terbuka menjadi tertutup karena aku salami;
"Ga ada, lagi ke Bali.. sama Toni, sini mampir dulu" Ibu Cindy menawarkan saya untuk masuk.
"Oh iya Bu, ga usah.. aku pulang saja, terima kasih Bu.."
aku pun segera pulang, aku lupa Cindy berselang 2 hari kemarin menikah sama itu yang namanya Toni, mungkin Cindy sedang menjadi lebah yang ingin bulan madu, maaf Cindy aku lupa.

Comments
Post a Comment