Separasi

Bandung lagi hujan, tapi aku masih kering tidak kehujanan karena rumahku ada gentingnya, aku belum mandi tapi masih wangi, wangi yang khas kalo habis bangun. bangun yang tetap kesiangan. aku ingin mpup tapi aku wajib membuat lambung dulu asam, oh itu kopi aku sayang kamu.

aku mulai mengambil gelas, hei kok bisa tubuh ini jalan? kamu tahu? sudah diprogram sama aku, untuk mengambil gelas.

aku mengambil kopi dan gula, aku tuangkan kedalam gelas bersama kucuran air panas, hei kok tubuh bisa begitu tanpa aku harus menggerutu? karena aku sudah membuat mereka untuk sujud kepadaku, tapi ada satu yang membangkang, kukira ini enak kalo ditambah garam, tapi sayang nafsu itu kalah sama hatiku yang ingin membuat kopi ini cukup dengan manis saja, tidak asin manis seperti bumbu rahasia temanku si dadan, itu ikan bakar dabu-dabu. syukurlah hatiku menang.

aku siram air kopi itu, kesalah satu lubang yang ada ditubuhku, iya.. ke mulutku. kau tahu? mulutku ini satu dari sepuluh lubang yang aku punya, aku memiliki sepuluh lubang, tidak tahu kalo yang lain, dan terkadang ada satu yang dihilangkan, kadang umum tidak sadar satu lubang yang dihilangkan itu adalah yang paling istimewa dari lubang-lubang lainnya, pusar namanya. pusar yang menjadi salah satu jembatan birokrasi logistik antara kamu dan ibu-mu, pusar yang berkorban agar tidak ikut mengakui bahwa pusar adalah salah satu lubang yang ada ditubuhmu, pusar berkorban bermain dibelakang layar, dan itu keren menurutku! pusar kau pahlawan yang tak menginginkan didirikan monumen berhala saat masa jabatan tugasmu habis, tidak usil dengan lubang-lubang yang lainnya. apakah kamu terharu pusar aku memujimu? tentu tidak, karena kamu adalah bagian diriku. sampai sekarang aku tidak tahu apa sebab ibu-ku dulu saat aku mau berangkat ke sekolah, sekolah dasar, ibu selalu membalurkan minyak kayu putih yang berupa cairan berwarna bening ke pusarku, mungkinkah ibu-ku mengetahui sebenarnya fungsi dari pusarku? aku tidak tahu karena aku tak mau menanyakan itu.

dulu pernah aku bersihkan bangkai-bangkai kuman yang ada di pusarku, sampai bersih, sedikit ngilu saat membersihkannya, dan akhirnya aku jatuh sakit, dan dengan begitu aku tidak ingin membersihkan bangkai-bangkai kuman yang ada di pusarku lagi, karena mungkin bangkai kuman itu memberikan manfaat bagi pusar tubuhku, aku tidak tahu, aku bukan ahli kulit, tapi intuisi ku begitu. 

pusar kau begitu misteri bagiku, aku angkat saja kamu sebagai siti jenar yah..? jangan marah.. kamu dibawah kendaliku oke?

biarkan para wali yang lain mewakilkan semua kegiatanku, tugas mu sudah berakhir, saat aku masih didalam perut ibu, atau kamu membodohiku? padahal kamu masih bekerja terus dibelakang layar imaji intuisiku?

ah.. aku tidak tahu, karena memang aku tidak tahu.

hei pusar! aku menyapamu? kamu tahu pusar? wali-wali yang lain aku bisa merasakan perannya,

2 lubang mata mewakiliku untuk menangkap cahaya

2 lubang telinga mewakiliku untuk mendengar gesekan udara

2 lubang hidung mewakiliku untuk merasakan wewangian udara

1 lubang mulut mewakiliku untuk memasuki makanan yang baik yang kusuka, dan

2 lubang pembuangan dan pemasukan buat para penunggu pintu toilet yang sombong karena tidak mau menjawab pertanyaanku, "kalo pipis 1.000, dan mpup 2.000 kenapa mpup bukan 3.000? karena aku kalo mpup pasti pipis?"

singkatkan ceritamu!

okeh!

jadi, aku masih bingung sekarang apa sih, pusar peran-mu? aku curiga kamu masih berperan sampai saat ini, jadi waliku sebenarnya ada sepuluh.

aku lebih suka sepuluh.

sepertinya aku sudah ingin mpup, aku mpup dulu. dadah!

Comments

Popular Posts