Kongimin

Malam ini aku lagi tiduran diatas tanah, yang tanah tersebut tumbuh rumput diatasnya, dan diatasnya lagi ada keramiknya, sehingga membuat pernyataanku tadi bahwa aku lagi tiduran diatas tanah, yang ada rumputnya, hanyalah imajinasi sajah. Hey! Tapi benar adanya, aku diatasnya, dipisahkan oleh kasur dan keramik agar aku tidak terlalu dini untuk menyatu dengan tanah. Lihatlah! Diatasku ada pelindung berbentuk genting rumah, menuntut tata-krama air hujan untuk tidak seenaknya, sehingga mengetuk-ngetuk genting dahulu kalau mau bertamu kerumah. Oh dan lihatlah! Itu diatas sanah! Ada sungokong bermain awan kinton dengan lincahnya, kesana kemari dengan mudahnya, terlihat sangat enak sekali sepertinya, tak pernah terlambat lagi kalo pergi ke sekolah.

maka inilah saatnya, aku mengatakan yang sesungguhnya, bahwa aku bersungguh-sungguh dan sebenar-benarnya, sangat rumit sekali jika terus-menerus menulis dengan akhiran NYA dan AH.

Aku takjub padamu sungokong, iya kamu yang menggunakan kendaraan dinas berbentuk awan dan dinamai kinton itu, kamu belajar dimana sih? Tidak mungkin kamu langsung bisa terbang? Mungkin dulu kamu belajar dari seseorang atau mungkin sesemonyet yang disebut Guru? guru yang kakinya konsisten menapak dibumi, guru yang bisa berjalan diatas air, sehingga ilmu yang kau pelajari dari guru tersebut kau kuasai dan kau kembangkan menjadi bisa menunggangi awan, karena kau sudah mengetahui yang sebenarnya awan adalah berasal dari air. Dan ketika kamu bisa mengembangkan ilmu tersebut, kamu mengerti bahwa teknologi awan memang sudah saatnya harus dikembangkan. tapi janganlah kau pikir Gurumu itu hanya kencing berdiri.

kau tahu? dia tidak begitu sungokong, gurumu itu sudah mengerti jikalau muridnya kencing berlari, maka guru kencing mengikuti. Hanya saja guru itu bisa disebut guru jika kakinya masih menapak dibumi.

kau tahu sungokong? Gurumu bukanlah tidak bisa terbang, tapi dia tidak mau terbawa-bawa oleh ilmunya.

hey sungokong pahamilah! akan lucu sekali jika ada monyet yang biasanya merebutkan kelapa, menjadi kelapa itu yang mengejar-ngejar monyet tersebut.

hey sungokong pahamilah! akan lucu sekali jika ada satu ikan yang sakit pada suatu gerombolan ikan, ikan sakit tersebut menjadi ikut sehat, menjadi gerombolan ikan sehat yang pada ikut-ikutan sakit gara-gara ada satu ikan yang sakit.

tapi kamu harus tau juga sungokong, mungkin jika masih beranggapan hanya kamu yang bisa menggunakan awan, ada juga jenis bukan dari monyet yaitu manusia yang bisa naik daun.

Kau sedih Kong?

Karena ada yang bisa naik daun?

Sedangkan kau tidak bisa?

Tenanglah, kamu jangan bersedih sungokong, jika kamu di Bully karena masih menggunakan awan kinton, yaitu yang membully-mu dari jenis manusia yang sudah bisa naik daun tersebut, kamu tinggal bilang begini saja ;


"Hah? baru bisa naik daun? hihh..! belum tahu ada angkot sama bis kota ya? lihat tuh! mereka sudah bisa pake kendaraan mobil, motor, angkot, bis, kapal udara, kapal laut! biarkan kalian naik daun! aku akan naik angkot saja biar cepat sampai!"


Dengan kau berkata begitu, itu akan membuat mulut-mulut golongan penunggang daun tersebut terbungkam! Dan itu tentu saja akan meredam olok-olokan mereka kepadamu Kong. Tapi tahukah kau sungokong? Setelah nanti kau mencoba untuk naik angkot tersebut, kau akan menyadari bahwa masa belajarmu sudah habis, karena tidak akan ada satupun angkot yang bisa kau tumpangi, karena semua penumpang angkot akan ketakutan, sehingga pada saat itu juga kamu menyadari bahwa namamu berubah dari Sungokong menjadi Sarimin yang ingin naik angkot.

Kong kau tau? aku yakin kamu belum tahu kalo aku belum ngomong sesuatu, atau aku yakin kamu belum tahu sampai aku ngomong pulang sajalah kau ke rumahmu, dan tetaplah naik awan kinton saja, supaya mempertahankan sarimin naik angkot yang ingin pergi ke pasar itu hanyalah mitos saja.


Comments

Popular Posts