Fun Taste Thick For ?
kegiatan jalan - jalan ke kawah putih ini terjadi di tahun duaribu sembilan bulan februari tanggal dua setelah jauh - jauh hari fir'aun wafat tentunya, kenapa aku bisa tahu secara presisi? itu setelah aku lihat barusan exif data dari foto - foto dan video di kawah putih tersebut diambil fotonya tanggal segitu. Tuhan memberkatimu digital!
jalan - jalan ke lokasi ini beranggotakan 4 manusia, terbuat dari 4 wadah, 4 wajah tapi satu jenis makhluk hidup yaitu yang kita sebut dengan manusia. mengapa cukup disebut hanya dengan 1 kata saja yaitu manusia? karena nanti akan repot kalo aku nulisnya jadi jalan - jalan ke lokasi ini beranggotakan 4 manusia, terbuat dari 4 wadah, 4 wajah, yaitu dengan wajah tipe 1 berwadah tipe 1 disebut manusia 1, dengan wajah tipe 2 berwadah tipe 2 disebut manusia 2, dengan wajah tipe 3 berwadah tipe 3 disebut manusia 3, dan dengan wajah tipe 4 berwadah tipe 4 disebut manusia 4.
oh indahnya hari ini hujan ditemani si Jimba yang baru saja ingin tidur diperutku, menemaniku mengetik pengalamanku saat jalan - jalan ke kawah putih.
mari, perkenalkan dahulu ini 4 orang yang melakukan jalan - jalan ke kawah putih ;
dari kiri ke kanan, Kodel - Sadut - Pak Hendar - Ogut
oya, sebenarnya kegiatan jalan - jalan ini dilaksanakan karena ingin menghibur kawanku Pak Hendar yang sedang pundung alias kabur dari rumahnya, sebab Pak Hendar itu lagi cekcok sama babehnya.
masalahnya?
itu kawanku Pak Hendar ini lulusan Sarjana Pendidikan (S.Pd.), tapi selama ini babehnya nyangka si Pak Hendar itu ngambil jurusan Agama (S.Pd.I.) jadi babehnya merasa dikibulin mungkin. Pak Hendar kuliahnya di salah satu universitas negeri di Yogyakarta.
ya intinya begitu, kalau diceritain sangat detail akan panjang sekali, sepanjang curhatan Pak Hendar kepadaku. jadi si Pak Hendar ini dari Banten tepatnya daerah desa Cikupa, kabur ke Bandung ingin menyegarkan otaknya, katanya.
menanggapi kawanku yang sedang kalang - kabut tersebut tentu aku bukanlah badut yang harus memaksakan diri memakai make-up super lucu hanya untuk menghibur Pak Hendar yang sedang bermuram durja kabur dari rumahnya itu. biarlah masih ada orang lain yang kompeten berperan sebagai badut, lagian juga aku tidak mahir dan tak ingin menjadi badut, maka dari itu aku ajak saja ke kawah putih, ini karena tepat seminggu sebelumnya aku jalan - jalan bersama teman sekampusku ke kawah putih, tepatnya itu kunjunganku ke kawah putih yang ke - 5, itu angka 5 yang kuketik barusan datang setelah aku ingat - ingat dengan secara keras & menghitung sudah berapa kali aku kesana!
maka dari itu dikarenakan aku sudah berkunjung ke kawah putih selama 5 kali, dan yang terakhir adalah seminggu sebelumnya, jadi bisa disebut kunjungan ke kawah putih untuk menghibur Pak Hendar ini adalah kunjunganku yang ke - 27.
oh aku belum ceritakan tentang Pak Hendar, dia ini tidak menggunakan Awan Kinton ataupun Buroq saat melakukan perjalannya dari Banten ke Bandung, dia menggunakan Motor, asal kalian tahu juga, Pak Hendar itu orangnya paling ga betah kalo perjalanan pake mobil, dia bisa mabuk - mabukan.
karena sesuatu yang memabukan itu tidak baik ya? hey!! Raja Dangdut!
langsung kita berangkat menuju ke lokasi, karena kita niatnya hanya mau piknik, jadi tidak bawa yang macem - macem seperti mau naik gunung, camping atau panjat tebing, aku hanya bawa satu ransel kecil yang dulu kubeli didaerah kosambi untuk menyimpan beberapa roti, rokok, dan air minum serta kamera saku kesayanganku yang sekarang sudah rusak pasca waktu dulu aku berkunjung ke suku baduy dalam. aku ga tau itu kamera rusak penyebab pastinya karena apa, bodo amat!
setelah sampai dilokasi kawah putih kami jalan - jalan seperti biasa saja dipinggir kawah kaya orang kebanyakan yang kebetulan waktu kunjungannya sama dengan kami berempat, oya perlu digaris bawahi maksud kata kunjungan disini bukan kunjungan dinas ya, ini mah kunjungan piknik. "hey! ini sangat membosankan! ayo kita keliling kawah!" gitu kiranya kata - kata yang aku lontarkan kepada ketiga temanku, karena seminggu sebelumnya aku berkeliling dipinggir kawah putih itu enak, lebih sepi, cuma bau petasan itu lebih menyengat sih.
maka dari itu kami berkeliling seperti dibawah ini.
perlu dingat foto - foto yang akan ada dibawah ini, diambil / hanya screenshoot dari video kamera sakuku, jadi kualitas foto aga noise.
kami berempat berjalan senang - senang dalam rangka menghibur Pak Hendar dan kamera pun kembali di tanganku, karena kata si Kodel "rugi ah! moal ka film!" apalagi si sadut yang ga mau banget pegang kamera digital dengan alesan "aduh urang teu bisa euy kamera mah..!" kalo si Pak Hendar? jangan nanti dia mah malah makin bermuram durja.
dan kamera pun kembali ditanganku
di foto pojok kanan bawah si Sadut berpaling kepadaku sambil bilang, "naha jalan na kieu?" sumpah aku gatau seminggu kemarin itu aku berkeliling dipinggir kawah dibawah batu itu masih daratan, tapi sekarang malah pasang, udahlah itu mah urusan ahli geologi, urasan kita mah piknik!
lanjut screenshot ketiga
dilihat dipojok kanan kembali, itu seminggu yang lalu adalah daratan, tapi gatau kenapa daratan itu hilang? udahlah ga usah terlalu dipikirin, mikirin hal itu mah sudah ada yang ngurus para ahli geologi.
urusan kita?
piknik!
screenshot diatas baris kesatu itu kami sedang mencari cara agar bisa nyebrang, nanggung juga soalnya karena sudah terlanjur sampai kesini. lihat kebelakang muter lagi kagok susah jalannya, sudah sore pula, kira - kira jam setengah 5 sorean.
nah untuk yang baris kedua, itu kami sudah berhasil memanjat dingding yang dipinggir tersebut, asalnya itu disana mungkin bisa dilihat screenshot sebelumnya biar lebih jelas dimana sambungannya. aku ga sempet ngerekam saat manjat dingding tersebut karena pasti akan ribet. untuk material batunya aku kurang tahu jenis apa itu, pokoknya aku gambarin gini, jadi setiap kamu mau berpegangan ke batu - batu yang ada di dingding tersebut, bukan dingding sih, seperti pasir tepatnya, maka batu - batu tersebut rapuh jika dipakai sebagai pegangan jadi harus sangat selektif. kenapa dingding - dingding di kawasan kawah putih ini bisa begitu, dan apa penyebabnya? itu mah urusan anak geologi! kita mah anak piknik!
lanjut kita naik ke atas karena jika kita berempat merayap dipinggir tidak ada jalan, tepatnya dibelakangku atau mungkin bisa dilihat baris ketiga, kolom 2 si sadut yang sedang bertolak pinggang? iya kita berempat keatas sana.
setelah sampai atas kita bersantai dulu sejenak, merokok, sambil makan roti, dan minum air mineral dikawasan yang penuh dengan mineral! si Sadut pengen cepet pulang karena tidak ada sinyal disini, pengen ngasih kabar ke pacarnya katanya, yasudah kami suruh dia duluan buka jalur kebawah tebing, dengan aba - aba aku lemparkan kantongku kebawah sebagai petunjuk jalur mana yang harus dia lewati.
setelah kami bertiga melihat si Sadut sampai bawah, sekarang saatnya kami bertiga yang turun kebawah, dan karena si Sadut sudah dibawah duluan, gatau mungkin dia kesambet Dewa - Dewi Mineral Kawah Putih sehingga pikiran dia jernih karena banyak asupan mineral dan hawa belerang petasan, saat kami turun tebing itu dia inisiatif langsung ngambil kamera dan merekam saat kami bertiga turun. padahal dia bilang diawal ga bisa operasiin kamera mah! dusta!
kami bertiga pun turun, Kodel dan aku turun duluan, si Pak Hendar karena mungkin merasa lebih tua menyuruh kami berdua duluan turun. ini kayaknya bener deh, si Pak Hendar juga kesambet Dewa - Dewi Mineral Kawah Putih! sehingga pikiran dia jernih dan bijak! karena banyak asupan mineral dan hawa belerang petasan!
oh iya asal kalian tau, tebing yang kami turuni yang terekam atau screenshot dibawah ini kemiringan aslinya itu seperti mendekati 90 derajat, kira - kira 84 derajatan mungkin, untuk menjawab dengan pasti berapa derajat kemiringan tebing yang kami turuni itu? itu mah urusan ahli geologi! kita mah ahli piknik!
dan kami pun berhasil turun, lalu istirahat dulu sebentar sambil bernafas panjang tapi yang kami cium hanyalah bau petasan.
disaat kami sedang santai ngobrol - ngobrol dan mengevaluasi semua perjalanan yang sudah dilalui, si Sadut ngambil kamera langsung inisiatif foto kita berempat, dengan mode timer 10 detik. ini kayaknya makin bener aja deh, si Sadut kesambet Dewa - Dewi Mineral Kawah Putih 2 kali! sehingga pikiran dia jernih karena banyak asupan mineral dan hawa belerang petasan! dia bisa set kamera ke mode set timer 10 detik tanpa harus dikasih tau sama ogut!
ketika melihat jalan yang terjal, bukan berarti itu tak bisa dilalui. agar jalan terjal tersebut bisa dilalui, diperlukan melihat kebelakang tapi ingat! melihat kebelakang hanya perlu sedikit saja, dengan begitu yang kita dapati adalah refleksi. karena begitu disayangkan sudah sampai sejauh ini, harus memutar kembali kebelakang.
Selamat Malam Dewa - Dewi Mineral!

Comments
Post a Comment