Sajjadatun Pocoyo


puasa di tahun 2021 ini sudah memasuki hari ke-17, puasa pada bulan ramadhan seperti pelatihan yang diadakan serentak di bumi ini untuk menahan diri, bahwa jasad bisa untuk tidak dimanja yang dimana diharapkan menghasilkan kebaikan-kebaikan yang diridhoi oleh Allah dan menetap di waktu berikutnya, karena ada kebaikan-kebaikan yang tidak diridhoinya yaitu kebaikan-kebaikan itu menghilang bagaikan debu seperti yang disampaikan pada surat Al Kahfi ayat 104; 


“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”


ataupun mungkin dari lagunya tirani mati yang dibawakan oleh nectura


“yang tak diinginkan kita terbuang menjadi butiran debu lalu menghilang”


dan mungkin yang lain-lainnya yang serupa atau bahkan yang lebih baik.

ya siapa tahu aja di bulan puasa ini ketika jasad tidak dimanja rohani menjadi meningkat mungkin ada yang menjadi rohaniawan? 

di bulan puasa ini juga marak penjual barang yang menawarkan diskon edisi bulan ramadhan, adikku misalnya yang memanfaatkan adanya diskon tersebut untuk membeli sepatu baru yang paketnya baru datang tadi siang, saya pun terbesit ingin beli sepatu baru, tapi kalau dilihat lagi saya termasuk orang yang punya sepatu lebih dari satu pasang makanya saya menahan diri untuk tidak ikut beli sepatu baru.

kalau dikategorikan sebagai orang yang berkecukupan atau tidak jika dilihat dari beberapa pasang sepatu yang saya miliki maka saya konfirmasikan bahwa saya termasuk orang yang lebih dari cukup, karena kakiku hanya satu pasang sedangkan saya punya sepatu lebih dari satu pasang, lebih dari cukup kan? sepertinya cukup segitu aja kali ya pembukaannya? cukup kan? mari kita ke kisah selanjutnya.


suatu hari sebelum bulan puasa di tahun 2021 ini dimulai, saya merancang program baju tauhid mutakhir. saya unggah program baju tauhid mutakhir itu di beberapa media sosial digital serta aplikasi percakapan seperti whatsapp (nanti saya lampirkan dokumen baju tauhid mutakhirnya di akhir tulisan ini). saat itu ada temanku yang mungkin melihat bahwa saya biasa bikin baju, makanya beberapa hari kemudian temanku menanyakan apakah bisa bikin baju pocoyo? saya pun tidak tahu apa itu baju pocoyo, ya mana saya tahu kan saya anak IPS?! yang terbesit di awal adalah pakaian sejenis jaket parka atau jas hujan ponco. lalu saya menggunakan mesin pencari dari google, ternyata pocoyo adalah serial animasi anak-anak. selanjutnya temanku itu menanyakan kalau bisa bikin nanti pesan 3 baju saja dengan warna baju yang berbeda yaitu merah, hitam dan putih serta setiap bajunya ingin disablon dengan desain karakter yang berbeda. saya menanyakan untuk siapa emang bajunya? lalu dia menjawab untuk temannya yang anaknya sebentar lagi mau berulang tahun. mungkin maksudnya hadiah untuk anak temannya. temanku itu suka cerita kalau orang yang mau dikasih baju pocoyo itu adalah mantan atasannya saat dia masih bekerja di perusahaan farmasi dan sangat baik kepada temanku di saat kesusahan alias selalu ada saat temanku itu susah. mungkin terikat balas budi kali ya? aga ngeri kalo ngebahas tentang balas budi, hihhhh.. terikat balas budi itu termasuk beberapa hal yang saya takuti. takutnya? ya takut karena jika melakukan apapun yang dianggap orang lain sebagai kebaikan lalu orang yang dibantu itu tunduk patuh kepadamu maka kamu ada kemungkinan bersaing dengan Tuhan.

apakah mantan atasan temanku itu ada niatan di hatinya jika melakukan kebaikan kepada orang lain agar suatu saat di masa depan bisa memperbudak orang lain tersebut dengan kebaikannya itu?

ya mana saya tahu isi palung hati orang lain? saya kan anak IPS?! saya harap sih tidak.

kembali lagi pada temanku yang mau membuat baju pocoyo itu, karena desainnya satuan dan untuk hadiah maka saya menawarkan temanku agar langsung ke tempat printing/cetak baju itu.

minta diantar tapi, yaudah saya antar.

setelah kami janjian, selepas pulang kerja temanku datang ke rumah menggunakan motor, setelah datang ke rumah lalu kami berdua berangkat menggunakan motor itu ke toko baju untuk bikin baju pocoyo itu. singkat cerita temanku membayar semua biaya pembuatan 3 baju pocoyo itu dengan harga Rp.196.500 dengan estimasi jadi 1 hari.

setelah kami keluar dari toko dan beranjak mau pulang temanku terlihat sedang sibuk membalas chat whatsapp, lalu saya menawarkan diri untuk mengendarai motornya agar temanku itu tetap bisa melakukan percakapan via whatsapp sambil kami jalan pulang. lalu kami jalan pulang.

di perjalan saya menanyakan kenapa kelihatan sibuk? ternyata mantan atasannya temanku itulah yang sebetulnya ingin bikin baju pocoyo untuk anaknya, mungkin karena terdengar oleh temanku, dia tergerak ingin ngasih baju kepada mantan atasannya itu, sedangkan temanku sedikit kebingungannya adalah gimana nanti saat ngasih bajunya itu? karena kalau ngasih ke mantan atasannya itu pasti akan diganti, malah dikasih lebih, selain itu pula temanku malu kepadaku mau kasih imbalan berapa?

pada posisi saya masih mengemudi motornya, saya jawab udah aja itu mah urusan kamu dan mantan atasanmu itu, saya mah ga akan ikut campur dan ga akan ambil upah dari bikin baju pocoyo itu, itu mah urusan kamu dan mantan atasanmu aja, jadi saya mah ga usah kamu pikirin, lagian ah kagok ngambil untung cuman 3 baju. setelah merasa yakin dan ditenangkan karena mungkin masalah yang dipikirkannya berkurang satu, ada sedikit hal lagi yang mengganjal temanku itu, ya itu tadi, karena kalau diberi apa-apa ada kemungkinan mantan atasannya itu akan membayarnya bahkan lebih, padahal  dia ingin memberi baju itu sebagai hadiah untuk anak mantan atasannya. karena saya bukan orang bijak maka saya teringat kata-kata bijak dari orang bijak yang tidak keberatan jika saya tidak tuliskan namanya di sini, yaitu;


“udah gini aja, seperti menggarap sawah kalau saat menggarap sawah dapat belut ya ambil aja belutnya juga, gpp kok, tapi ingat niat awal untuk fokus ke menggarap sawahnya jangan fokus untuk dapat belut, kamu kan niat ngasih? ya ngasih aja, kalau nanti dikasih imbalan mah ya anggap aja bonus”


lalu kami pun sampai di rumah, dan temanku pun izin pulang ke rumahnya.

besok harinya temanku mengirim foto bahwa bajunya sudah jadi, saya bilang yauda langsung dianterin aja kasih ke mantan atasannya itu. iya katanya mau langsung diantar.

esok harinya lagi kami bertemu, saya bertanya gimana bajunya kepake ga? kualitasnya bagus? temanku menjawab bagus, katanya kepake, lalu temanku lapor juga kalau kemarin mantan atasannya menanyakan berapa total semua biayanya? tapi temanku menolak untuk dibayar dengan bilang;


“udah ga usah ini mah ngasih.”


lalu mantan atasannya temanku itu memberi sarung yaitu pakaian yang identik dengan ibadah. dan temanku menerimanya.

setelah temanku cerita begitu lalu kami pun lanjut mengobrol lagi seperti biasa.

begitulah kisah temanku yang menggarap sawah bonus mendapatkan belut yang dikonfirmasikan dengan diberinya sarung untuk beribadah.

oh iya baju tauhid mutakhirnya ya? ini fotonya



karena ini ditulis saat bulan ramadhan saya jadi teringat dengan kalimat penutup ceramah khotbah jum’at yaitu

 

wabillahi taufik walhidayah

wassalaamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh

akhirul kalam tetaplah Allahu a’lam

Comments

Popular Posts