Situasi dan Kronologi
(sebuah rekapitulasi)
Juni bulan yang menggemparkan di tahun 2023 ini atau mungkin bisa dianggap biasa saja, dimulai dengan adanya kampanye pride month yaitu banyaknya ajakan kepada kaum yang disebut LGBT agar berbangga dengan jati diri mereka yang sebetulnya (jati diri versi mereka). Bersamaan dengan itu pula ada tayangan gratis film mini dokumenter yang berjudul what is a woman? yang isi filmnya menayangkan beberapa orang-orang pintar dengan berbagai pangkat akademisinya yang berjajar lalu semuanya ditanya tentang apa itu wanita? tentu film itu menimbulkan kontra instan, khususnya bagi para pembela teori transgender, yaitu teori tentang orang yang terlahir berjenis kelamin pria bisa menjadi wanita & yang terlahir berjenis kelamin wanita bisa menjadi pria, karena menurut mereka jenis kelamin dan gender itu tidak sepaket alias terpisah, apakah mungkin mereka tidak mengikuti paket bundling? Jadi mungkin seperti beranggapan tidak adanya keselarasan antara jenis kelamin dengan gender, karena menurut banyak orang yang mendukung teori transgender itu, sudah banyak ilmuan yang menerangkan bahwa gender itu kompleks/rumit/sophisticated, jadi gender itu tidak sesederhana bisa ditetapkan tergantung jenis kelaminnya. film dokumenter what is a woman? ini dinilai jelek karena si penanya terlihat sangat menyudutkan para narasumber dengan pertanyaan yang sederhana what is a woman? kebanyakan si penjawab, menjawabnya menggunakan bahasa berputar-putar dengan berbagai macam kata penghalusan tingkat tinggi yang beresiko memudarkan makna yang sesungguhnya. Kalau kata George Carlin itu adalah eufemisme.
Ada lagi yang membahas buku yang diberi judul sebagai Queer Menafsir: Teologi Islam untuk Ragam Ketubuhan, tentang queer yang dianggap spesial karena disamakan dengan keadaan terasingnya para pendahulu umat islam, jadi sepertinya si penulis buku ingin mengaitkan bahwa ada kesamaan antara istilah Queer dengan Al Ghuroba, tetapi untungnya ada orang yang berani menginisiasi membantah pandangan pribadi si penulis buku tersebut yang dimana pandangan pribadi si penulis buku tersebut diberi label seakan-akan tafsir (banyak kualifikasinya jika ingin menjadi penafsir) sehingga ada pelurusan bahwa Queer tidak sama dengan Al Ghuroba. Sang penulis buku tersebut saat menceritakan pengalaman spiritual pribadinya, sampai ingin menyatakan (secara tidak langsung) bahwa, ketika si penulis dalam keadaan gundah-gulana bimbang dalam penemuan jati diri gendernya alias pada saat itu si penulis dalam keadaan non-biner (tidak laki tidak perempuan) merasakan sedikit pencerahan bahwa orang yang non-biner itu sangat mirip dengan Tuhan, karena Tuhan tidak berjenis kelamin. Jadi mungkin si penulis merasa mendapatkan pencerahan berupa; non-biner seperti manunggal dengan Tuhan, karena Tuhan itu non-biner, se-frekwuensi gitulah, berarti (mungkin) jalan yang ditempuh sang penulis adalah benar. Si penulis buku tersebut kalau tidak salah anak pesantren yang asalnya perempuan tetapi sekarang menjadi lelaki yang dibalut dengan jenggot hasil hormon artifisial.
Sungguh aneh tetapi ya memang ada, si penulis di awal tulisannya yang sampai sekarang mengaku sebagai seorang trans pria muslim (hal: viii) yang dimana harusnya muslim itu berserah diri dengan apa yang diberikan oleh Allah, walaupun di luar negeri sekarang terkenal karena seringnya didengungkan akan istilah gender fluid, justru jika gender adalah seperti cairan, maka harus tunduk patuh pada wadahnya, wadahnya yaitu bentuk fisik badanmu. Jika kamu diberi fiturnya bertitit ya berserah dirilah untuk menjalani hidup ini sebagai lelaki, jika bervagina ya kalian berserah dirilah menjalani hidup ini sebagai perempuan. Sesederhana itu kan?
Apakah akan dianggap terlalu menyederhanakan?
Tetapi kan faktanya memang begitu, air ditempatkan di wadah manapun tidak akan mengkhianati wujud wadahnya kan?
Semoga penulis buku Queer Menafsir tersebut tobat seperti yang sudah dilakukan oleh Oli London, aamiin..
Di bulan juni tahun 2023 ini juga presiden amerika Joe Biden mengibarkan bendera pelangi di gedung putih, mengadakan acara seru-seruan mungkin bertematik piknik, tetapi acara tersebut dinodai dengan beberapa transgender yang buka kutang alias topless, kadang membuat berpikir apa iya kampanye LGBTQ+2LSuper-Amoled-Premium-Display (banyak banget singkatannya woy!) mereka itu atas nama cinta? Karena jika melihat parade mereka di luar negeri menggunakan pakaian-pakaian yang vulgar bahkan ada yang sampai telanjang, sedangkan mereka malah bangga walaupun banyak anak-anak kecil yang melihat di sana.
Apakah anggapan mereka transparan itu adalah harus telanjang? Lalu berbangga-bangga dengan itu semua?
Saya tidak yakin kalo kampanye itu semua atas nama cinta (love) tapi lebih tepatnya atas nama nafsu (lust)
coba tanyakan ke si bang mongol stress apa itu lust?
cukup memusingkan banyak yang membela ide transgender ini, padahal ide tentang transgender sangatlah rapuh dan tidak mendasar, apalagi kemarin lagi ramai diperbincangkan bahwa akan disematkan teori transgender ini di pendidikan Sekolah Dasar di luar negeri sana, ya ga akan masuk, karena yang namanya anak Sekolah Dasar ya harus dibekali oleh fakta, kalaupun ingin dibekali imajinasi, bekalilah dengan imajinasi yang membuat umat manusia melihat bumi ini sebagai satu rumah bersama, untuk dikelola bersama sehingga tidak ada yang serakah dan tak perlu ada rencana untuk berpindah ke planet mars. Mungkinkah karena transgender identik dengan lambang pelangi lalu dikaitkan dengan pernyataan SpongeBob tentang imajinasi yang sambil melambaikan kedua tangannya yang mengeluarkan gambar pelangi itu, lalu merasa didukung oleh kutipan Einstein yang terkenal tentang "imajinasi lebih penting daripada pengetahuan" sehingga merasa anak-anak Sekolah Dasar perlu dicekok teori imajiner transgender ini?
Atau mungkin anak-anak Sekolah Dasar ketika mendengar tentang teori transgender, cukup diberikan pemahaman bahwa apabila gender itu seperti cairan (gender fluid, seperti yang mereka bilang) maka cairan itu sudah seharusnya tunduk patuh pada wujud wadahnya.
"itu mah muslimisasi ih!?"
Juni bulan yang menggemparkan di tahun 2023 ini atau mungkin bisa dianggap biasa saja, dimulai dengan adanya kampanye pride month yaitu banyaknya ajakan kepada kaum yang disebut LGBT agar berbangga dengan jati diri mereka yang sebetulnya (jati diri versi mereka). Bersamaan dengan itu pula ada tayangan gratis film mini dokumenter yang berjudul what is a woman? yang isi filmnya menayangkan beberapa orang-orang pintar dengan berbagai pangkat akademisinya yang berjajar lalu semuanya ditanya tentang apa itu wanita? tentu film itu menimbulkan kontra instan, khususnya bagi para pembela teori transgender, yaitu teori tentang orang yang terlahir berjenis kelamin pria bisa menjadi wanita & yang terlahir berjenis kelamin wanita bisa menjadi pria, karena menurut mereka jenis kelamin dan gender itu tidak sepaket alias terpisah, apakah mungkin mereka tidak mengikuti paket bundling? Jadi mungkin seperti beranggapan tidak adanya keselarasan antara jenis kelamin dengan gender, karena menurut banyak orang yang mendukung teori transgender itu, sudah banyak ilmuan yang menerangkan bahwa gender itu kompleks/rumit/sophisticated, jadi gender itu tidak sesederhana bisa ditetapkan tergantung jenis kelaminnya. film dokumenter what is a woman? ini dinilai jelek karena si penanya terlihat sangat menyudutkan para narasumber dengan pertanyaan yang sederhana what is a woman? kebanyakan si penjawab, menjawabnya menggunakan bahasa berputar-putar dengan berbagai macam kata penghalusan tingkat tinggi yang beresiko memudarkan makna yang sesungguhnya. Kalau kata George Carlin itu adalah eufemisme.
Ada lagi yang membahas buku yang diberi judul sebagai Queer Menafsir: Teologi Islam untuk Ragam Ketubuhan, tentang queer yang dianggap spesial karena disamakan dengan keadaan terasingnya para pendahulu umat islam, jadi sepertinya si penulis buku ingin mengaitkan bahwa ada kesamaan antara istilah Queer dengan Al Ghuroba, tetapi untungnya ada orang yang berani menginisiasi membantah pandangan pribadi si penulis buku tersebut yang dimana pandangan pribadi si penulis buku tersebut diberi label seakan-akan tafsir (banyak kualifikasinya jika ingin menjadi penafsir) sehingga ada pelurusan bahwa Queer tidak sama dengan Al Ghuroba. Sang penulis buku tersebut saat menceritakan pengalaman spiritual pribadinya, sampai ingin menyatakan (secara tidak langsung) bahwa, ketika si penulis dalam keadaan gundah-gulana bimbang dalam penemuan jati diri gendernya alias pada saat itu si penulis dalam keadaan non-biner (tidak laki tidak perempuan) merasakan sedikit pencerahan bahwa orang yang non-biner itu sangat mirip dengan Tuhan, karena Tuhan tidak berjenis kelamin. Jadi mungkin si penulis merasa mendapatkan pencerahan berupa; non-biner seperti manunggal dengan Tuhan, karena Tuhan itu non-biner, se-frekwuensi gitulah, berarti (mungkin) jalan yang ditempuh sang penulis adalah benar. Si penulis buku tersebut kalau tidak salah anak pesantren yang asalnya perempuan tetapi sekarang menjadi lelaki yang dibalut dengan jenggot hasil hormon artifisial.
Sungguh aneh tetapi ya memang ada, si penulis di awal tulisannya yang sampai sekarang mengaku sebagai seorang trans pria muslim (hal: viii) yang dimana harusnya muslim itu berserah diri dengan apa yang diberikan oleh Allah, walaupun di luar negeri sekarang terkenal karena seringnya didengungkan akan istilah gender fluid, justru jika gender adalah seperti cairan, maka harus tunduk patuh pada wadahnya, wadahnya yaitu bentuk fisik badanmu. Jika kamu diberi fiturnya bertitit ya berserah dirilah untuk menjalani hidup ini sebagai lelaki, jika bervagina ya kalian berserah dirilah menjalani hidup ini sebagai perempuan. Sesederhana itu kan?
Apakah akan dianggap terlalu menyederhanakan?
Tetapi kan faktanya memang begitu, air ditempatkan di wadah manapun tidak akan mengkhianati wujud wadahnya kan?
Semoga penulis buku Queer Menafsir tersebut tobat seperti yang sudah dilakukan oleh Oli London, aamiin..
Di bulan juni tahun 2023 ini juga presiden amerika Joe Biden mengibarkan bendera pelangi di gedung putih, mengadakan acara seru-seruan mungkin bertematik piknik, tetapi acara tersebut dinodai dengan beberapa transgender yang buka kutang alias topless, kadang membuat berpikir apa iya kampanye LGBTQ+2LSuper-Amoled-Premium-Display (banyak banget singkatannya woy!) mereka itu atas nama cinta? Karena jika melihat parade mereka di luar negeri menggunakan pakaian-pakaian yang vulgar bahkan ada yang sampai telanjang, sedangkan mereka malah bangga walaupun banyak anak-anak kecil yang melihat di sana.
Apakah anggapan mereka transparan itu adalah harus telanjang? Lalu berbangga-bangga dengan itu semua?
Saya tidak yakin kalo kampanye itu semua atas nama cinta (love) tapi lebih tepatnya atas nama nafsu (lust)
coba tanyakan ke si bang mongol stress apa itu lust?
cukup memusingkan banyak yang membela ide transgender ini, padahal ide tentang transgender sangatlah rapuh dan tidak mendasar, apalagi kemarin lagi ramai diperbincangkan bahwa akan disematkan teori transgender ini di pendidikan Sekolah Dasar di luar negeri sana, ya ga akan masuk, karena yang namanya anak Sekolah Dasar ya harus dibekali oleh fakta, kalaupun ingin dibekali imajinasi, bekalilah dengan imajinasi yang membuat umat manusia melihat bumi ini sebagai satu rumah bersama, untuk dikelola bersama sehingga tidak ada yang serakah dan tak perlu ada rencana untuk berpindah ke planet mars. Mungkinkah karena transgender identik dengan lambang pelangi lalu dikaitkan dengan pernyataan SpongeBob tentang imajinasi yang sambil melambaikan kedua tangannya yang mengeluarkan gambar pelangi itu, lalu merasa didukung oleh kutipan Einstein yang terkenal tentang "imajinasi lebih penting daripada pengetahuan" sehingga merasa anak-anak Sekolah Dasar perlu dicekok teori imajiner transgender ini?
Atau mungkin anak-anak Sekolah Dasar ketika mendengar tentang teori transgender, cukup diberikan pemahaman bahwa apabila gender itu seperti cairan (gender fluid, seperti yang mereka bilang) maka cairan itu sudah seharusnya tunduk patuh pada wujud wadahnya.
"itu mah muslimisasi ih!?"
Bukan aiiikamuuuu, emang faktanya begitu kan? Itu sudah tertulis di atas juga begitu.. Walaupun digempur dengan serangan teori gender fluid, yasudah seperti air saja, air yang tidak akan mengkhianati wujud wadahnya. Itu kan fakta dan ada imajinasinya juga kan?
Jadi memang setiap dalam kesulitan bersamaan dengan itu ada pula kemudahan.
Atau mungkin orang tua bisa memberikan pendekatan tentang gender kepada anak-anak dengan bantuan media perantara yaitu film kartun Demon Slayer pada kisah desa pembuat pedang (Swordsmith Village Arc) tepatnya di episode 10, di episode tersebut sedikit menceritakan tentang masa lalu Mitsuri Kanroji sang pilar cinta yang terlahir sebagai seseorang berjenis kelamin wanita, akan tetapi dia sejak kecil diberi karunia tubuh yang kuat layaknya seorang lelaki, bahkan di episode tersebut menampilkan adegan ketika Kanroji yang masih kecil beradu panco dengan pria dewasa yang berpenampilan seperti atlet sumo, dan kanroji kecil menang dalam peraduan panco dengan pria sumo tersebut.
Jadi memang setiap dalam kesulitan bersamaan dengan itu ada pula kemudahan.
Atau mungkin orang tua bisa memberikan pendekatan tentang gender kepada anak-anak dengan bantuan media perantara yaitu film kartun Demon Slayer pada kisah desa pembuat pedang (Swordsmith Village Arc) tepatnya di episode 10, di episode tersebut sedikit menceritakan tentang masa lalu Mitsuri Kanroji sang pilar cinta yang terlahir sebagai seseorang berjenis kelamin wanita, akan tetapi dia sejak kecil diberi karunia tubuh yang kuat layaknya seorang lelaki, bahkan di episode tersebut menampilkan adegan ketika Kanroji yang masih kecil beradu panco dengan pria dewasa yang berpenampilan seperti atlet sumo, dan kanroji kecil menang dalam peraduan panco dengan pria sumo tersebut.
Terus apakah Kanroji dengan tubuhnya yang kuat itu membuatnya berada di fase bertanya-tanya tentang gender dia yang sesungguhnya? Seperti kejadian yang diceritakan Amar Alfikar sang penulis buku Queer Menafsir: Teologi Islam untuk Ragam Ketubuhan yang sudah dibahas sebelumnya? Yang dimana Amar Alfikar menceritakan di bukunya, dulu ketika dirinya masih perempuan sempat bimbang dengan gendernya, lalu mendapat ketenangan ketika memakai sarung, sehingga dia memantapkan diri untuk menjadi lelaki, karena menurutnya itu adalah suatu pencerahan spiritualnya tentang kebimbangan akan gendernya.
Lalu bagaimana dengan sang pilar cinta Kanroji? Tentu berbeda, Mitsuri Kanroji sang pilar cinta walaupun secara jasmani dia dikaruniai kekuatan seperti lelaki, tetapi dia tetap menjadi wanita, bahkan ingin tetap menikah dengan seorang pria.
tentang LGBT ini saya menjadi ingat ketika ditanyai oleh adik kandung, di tahun 2019 waktu itu kami berdua sedang ngobrol santai lalu dia bertanya tentang Dua Lipa dan mungkin adik saya juga melihat banyaknya selebritis terkenal lainnya di media sosial yang mendengungkan LGBT ini, lalu kami berdua mengobrol tentang fenomena yang di-identikan dengan pelangi itu, karena kami berdua kebetulan beragama Islam jadi kami berdua sudah akrab akan kisahnya Nabi Luth Alaihi Salam, sehingga membuat saya tidak perlu terlalu repot untuk mengemukakan pandangan saya terhadap fenomena LGBT itu.
percakapan yang akan dibaca di bawah ini sudah diterjemahkan dalam format bahasa indonesia
Adik bertanya
"kak, kenapa ya Dua Lipa mendukung LGBT?"
Kakak menjawab
"jika maksudnya mendukung kesetaraan dalam hak untuk menghirup oksigen, hak mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan layanan publik? ya tidak apa-apa emang harus setara, tapi yang tidak boleh yaitu hanya satu"
Adik bertanya kembali
"apa kak yang tidak dibolehkan?
Kakak menjawab kembali
"yang tidak dibolehkan itu pernikahan sesama jenisnya, karena coba lihat kenapa kaum penyuka sesama jenis 'dicitrakan' hancur lebur tak adanya kehidupan? karena ya memang benar tidak akan melahirkan kehidupan"
Alhamdulillah adik saya tidak bertanya-tanya lagi.
Akhir-akhir ini banyak yang meyakini bahwa ketertarikan antara sesama jenis atau yang disebut homo bisa terjadi, hah bagaimana mungkin itu bisa terjadi? (kata gue teh) yang dimana hukum daya tarik (the law of attraction) hanya bisa terjadi apabila adanya perbedaan.
Orang yang berkulit coklat tertarik kepada orang yang berkulit putih. Rambut ikal ingin memiliki rambut yang lurus. Orang yang miskin ingin kaya & orang yang kaya harta mungkin ingin menjadi orang sederhana yang banyak waktu luangnya.
Dari sedikit contoh tersebut saya meyakini bahwa hukum daya tarik terjadi karena adanya perbedaan, sehingga argumen orang yang percaya bahwa ada daya tarik antar sesama jenis (sama jenis kelaminnya) itu sangat tidak mendasar.
Saya ingat waktu masih kecil sering ada acara sirkus di kota Bandung, di acara sirkus tersebut biasanya sepaket dengan pasar malam yang ada wahana komedi putar, kincir angin, tong setan, acara sirkus binatang dan lain-lainya. Acara tersebut dulu disebutnya sebagai 'acara atraksi' mau itu acaranya adalah Tong Setan, yaitu mamang-mamang yang berkemampuan tidak umum bisa mengendarai motor RX-King muter-muter di trek yang menyerupai tong raksasa seakan-akan sedang terbang tidak terikat dengan gravitasi, ada pula Sirkus yang sering menampilkan orang-orang yang berkemampuan tidak umum lainnya, biasanya menampilkan orang-orang yang bisa menjaga keseimbangan di atas tali, bisa membuat binatang nurut untuk melakukan apa saja dan yang lainnya.
Itu semua adalah contoh dari hukum atraksi (daya tarik) yang dimana hanya bisa terjadi jika adanya perbedaan.
Pengunjung yang masyarakat umum tertarik (attract) dengan acara yang diisi oleh orang-orang yang berkemampuan khusus (ora umum) ini.
Jadi menurut saya daya tarik antar sesama jenis itu tidak ada, daya tarik hanya terjadi jika itu antara Pria dengan Wanita, karena pada Pria ada sesuatu yang Wanita tidak punya, begitupun pada Wanita ada sesuatu yang Pria tidak punya.
Itu menurut saya, tentu saja semua orang tidak wajib untuk nurut dengan saya.
Mungkinkah pemerintah harus mengadakan program rehabilitasi untuk saudara kita yang LGBT ini? Mungkin bisa seperti diadakannya pelatihan/pengenalan kembali secara perlahan tentang hukum atraksi (the law of attraction) bahwa daya tarik terjadi karena adanya perbedaan, sehingga mereka bisa kembali lagi untuk menyukai lawan jenis lalu setia dengan pasangannya itu serta bisa menerima gendernya berdasarkan apa yang telah diberikan oleh Tuhan sedari mereka lahir di bumi ini.
Yauda saya cukupkan tulisan saya segini saja, di bulan juni tahun 2023 ini. Tulisan ini saya tutup dengan kutipan bijak dari H. Prof. Drs. Asep Saepuloh S.Campur MPASI
"tidak apa-apa jika jalan yang sedang kau tempuh penuh dengan kerikil, jangan lupa pake alas kaki"

Comments
Post a Comment