TamaTami

/memroar
Tama adalah seorang lelaki dan Tami adalah seseorang juga tetapi berjenis kelamin perempuan. Mereka berdua sudah lama tidak bertemu, lama, iya sangat lama, Sampai tempat Sekolah Dasar dimana Tama belajar sudah tidak ada lagi di tempatnya, lalu diganti menjadi Sekolah Menengah Pertama, Tama tidak banyak memikirkan mengapa sekolah dasarnya dulu pindah, pindah karena ada kasus kah? digusur karena sengketa kah? Tama anggap yang sudah terjadi ya sudah terjadilah walaupun tempat itu mungkin banyak menyimpan kenangan untuk Tama kecil, seperti kenangan saat bersama teman sekolahnya, jajanan beserta es-cekeknya, gameboy bertenaga aki(accu) serta jimbotnya(game watch), bermain lotre isi permen yang berhadiah utama kapak plastiknya, serta cinta pertamanya. Tama hanya anggap perubahan tempat sekolahnya itu adalah suatu peningkatan/upgrade yang asalnya dari SD menjadi SMP.

Tami adalah juga anak yang pernah bersekolah dasar, jaraknya tidak jauh dari sekolah tempat Tama belajar yaitu 260 meter jika sekarang diukur dengan Google Maps menggunakan metode rute jalan kaki. Tami adalah gadis cantik, berkulit putih bibir merah muda dengan mata berbinar yang penuh dengan 100 pintu harapan, wajahnya sering nampak merona ketika dihadapkan pada orang yang dicintainya, Tami adalah gadis yang pemalu namun pemberani, seperti kaktus.
Kisah tempat Tami belajar tidak seperti Tama, Sekolah Dasar tempat Tami dulu belajar untuk mendapatkan ilmu masih ada berdiri kokoh hingga sekarang, sehingga Tami diberi kemudahan jika dia ingin mengunjungi kenangan Tami kecil. Namun anehnya, sekolah Tami juga mengalami perubahan, bukan tentang struktur bangunannya yang masih berdiri melainkan sekarang sekolah Tama pun digabungkan dengan sekolah Tami, jadi ada dua Sekolah Dasar yang berbeda di lokasi itu lalu digabung menjadi satu.
Pak Ustadz nanya dong, apakah Tami juga sepemikiran dengan Tama bahwa dengan adanya kejadian luar biasa itu, berarti sekolahnya Tami juga telah melakukan peningkatan/upgrade?
Oh tentu wallohua'lam.

Tapi dengan begitu jika Tama kesulitan ingin mengunjungi kenangannya, dia tinggal meminta bantuan kepada Tami, karena tempat mereka belajar yang dulunya masing-masing, sekarang sudah digabung. 

Tami tidak diketahui siapakah cinta pertamanya, tetapi yang Tama ketahui dia sempat melihat Tami beserta dua sahabatnya sering beberapa kali mengintipnya saat dia sedang ada pelajaran berolah-raga di lapangan sekolah. Mungkinkah awalnya Tami dan sahabatnya itu sedang tidak ada kelas belajar, lalu mereka berkehendak pulang dan ketika mau pulang ke rumahnya masing-masing mereka mengambil rute yang melewati sekolah Tama belajar, lalu mereka tidak sengaja melihat anak-anak yang saat itu kebetulan sedang berolah-raga?
Tama kurang mengetahui hal tersebut karena belum sempat menanyakannya dan itu adalah murni kenangannya Tami.

Tetapi Tama pun ada kenangannya sendiri dan Kenangan-kenangan itu akhir-akhir ini sedang meraung, tapi sejauh kenangan yang bisa Tama panggil ulang adalah ketika Tami sering berkunjung ke daerah tempat dimana Tama tinggal, karena memang kebetulan ada sahabatnya Tami juga yang tinggal di lokasi Tama tinggali itu, singkatnya bisa disebut tetangga, tapi tetangga yang rada jauhan dikit. Cerita disingkat Tama & Tami pun seperti dijodohkan oleh teman-temannya, dengan usia mereka yang masih sama-sama di tingkat Sekolah Dasar yang masing-masing masih terbilang murni nan polos sehingga tidak berani menerjemahkan apa itu yang dinamakan cinta seperti sesuatu yang nampaknya sangat rumit, lalu mereka mencoba untuk mengalaminya dengan menjalani rasa senang bisa melihat wajah yang dicintainya tanpa mengharapkan kembali untuk dilihat balik atau sekadar bertemu tatap muka lalu seketika mendadak menjadi orang yang payah dalam berkosa-kata, atau bisa juga hanya ingin memberi dua batang coklat yang tidak memikirkan uangnya dari mana, tetapi langsung meminta kepada orang tua lalu tanpa pretensi apapun kepada orang yang diberinya apalagi menuntut minimal membalasnya dengan setara.

Alkisah Tama.
kenangan itu meraung-raung memang, sampai secara tidak langsung mendesakku untuk mencari sisa-sisa artefak itu, walupun artefak yang kutemukan nanti mungkin hanya tersisa berbentuk kerangka seperti tulang belulang saja, tetapi itu pun sudah lebih dari cukup asalkan tidak menghilang menjadi debu yang bertebaran yang sulit untuk ditangkap lalu hanya akan memedihkan mata ketika ingin berinteraksi walau dalam kadar hanya untuk melihatnya saja. Tami aku baru menyadari bahwa artefak yang sedang aku cari ini merupakan penemuan terbesar bagi diriku sebagai bukti ketika manusia belum bisa berpikir.
Ingatkah kamu ketika aku disuruh menyatakan cinta kepadamu oleh teman-temanku? Alih-alih menyatakan langsung dengan jelas, tertata dan rapi seperti yang banyak dilakukan oleh orang dewasa kita ketahui sekarang, dengan polosnya aku malah menyatakannya dengan menanyakan balik kepadamu, karena aku saat itu dalam pengaruh selimut rasa aneh yang sangat mendebar-debar;

"Ka..kamu, apakah suka sama Tama?"

lalu kamu menjawab dengan suara lembutmu itu
 
"Tama juga mungkin sudah tau apa yang Tami rasakan"

hah? apa?
saat itu aku kebingungan karena memang tidak mengetahui apa maksudnya kamu menanggapi dengan kalimat itu? Lalu aku harus gimana? Dan apa itu yang namanya Nembak?! Instruksi kegiatan yang temanku suruh harus lakukan!? Apa itu menyatakan cinta?!
Asli aku tidak tahu!
Aku merasa sangat bodoh jika mengingat kejadian itu.
Jadi sebenarnya kita waktu itu sudah berpacaran atau belum sih?
Tami aku minta maaf, aku yang terlalu bodoh untuk selalu menghindar setiap kamu ingin mengenalku lebih dekat, sampai aku sempat bersembunyi di kamar mandi ketika mendengar dari temanku bahwa kamu dan sahabatmu mau berkunjung ke rumah, sehingga aku tidak ketahuan oleh Ibuku lalu membuat Ibuku menyangka bahwa aku sedang main keluar yang akhirnya membuatmu menjadi sungkan untuk main ke rumah. Maafkan diriku Tami, yang saat itu memang sedang disentuh dengan perasaan yang aneh itu, yang aku sendiri pun tidak mengerti apa itu.
Maaf Tami. Maafkan Aku.. Aku minta dimaafkan.
Sudah lama aku tidak mengetahui kabarmu Tami apalagi untuk bertatap muka, maka Aku mulai mencarimu dengan langsung menuju ke rumahmu, walaupun dulu aku tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumahmu, tetapi aku masih ingat di mana daerah tempat kamu tinggal, jika dulu kamu yang mencari aku sekarang akulah yang mencarimu, maaf Tami, kurang lebih sudah 25 tahun berlalu, kamu baru merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang ingin ditemui.
Setelah aku sampai di daerah tempat kamu tinggal, aku bertanya kepada Bapa-bapa dan Ibu penjual es jeruk, lalu mereka menyatakan kalau mereka mengenalmu, perasaanku senang saat itu seperti sedang mendapatkan hadiah yang sangat besar! tapi hadiah yang bukan dari hasil perjudian. Mereka memberi tahu bahwa kamu adalah orang yang pernah bekerja di toko mainan anak-anak, tapi sayangnya sekarang sudah lama pindah dan terakhir yang mereka ketahui bahwa kamu kerja di Pulau Ujung Timur.
setelah sedikit lemas dan berpikir yah.. yasudah lah, mungkin kamu sudah berumah tangga dengan suaminya dan menetap di Pulau Ujung Timur sana.. lalu tiba-tiba ada bapak paruh baya yang menyarankan untuk bertanya langsung kepada Pak Dede karena katanya beliau mengetahui nomer Ayahmu, lalu aku pun tidak banyak lama mendatangi Pak Dede memohon untuk meminta nomor telepon yang bisa dihubungi, nomor siapapun yang berhubungan denganmu.
Nomor telepon Ayahmu pun sudah aku simpan di ponsel, lalu aku mengirim pesan singkat melalui whatsapp, meminta nomor teleponmu dengan kemampuan sopan santunku yang seadanya ini. Lama pesan singkatku tak kunjung dibalas, tidak adanya tanda untuk dibalas aku inisiatif menghubungi namun sudah 3x menelepon berturut-turut pun tak pernah diangkat, saat itu aku sedikit merenung mungkin pencarian untuk hari ini dicukupkan saja, aku akan lanjutkan mencarimu lewat sosial media walaupun Tami adalah nama yang sangat umum dan kemungkinan akan susah untuk mencarinya.
Tiba-tiba aku dapat kabar baik, aku dihubungi oleh Mamahmu! itu pertama kalinya aku berbicara dengan mamahmu, sambil beliau bertanya siapa? Dan ada perlu apa meminta nomormu? Aku menjawab bahwa aku adalah temanmu saat SD dulu yang sedang ada keperluan untuk perihal reuni, walaupun kamu juga mengetahui kalau aku berbeda sekolah, ta..tapi kan kenyataannya sekarang tempat sekolah kita sudah menyatu kan ya?
Semoga mamahmu nanti bisa memaklumi dan memaafkan.
Lalu mamahmu sebelum mengirim nomermu, beliau memberi tahu jika untuk keperluan reuni kemungkinan kamy tidak akan bisa ikut, karena kamu sedang di Pulau Tengah Tenggara. Aku pun bertanya bukankah sedang di Pulau Ujung Timur? Ternyata itu dulu, tapi sekarang sedang di Pulau Tengah Tenggara. Ditutup lah perbincangan kami berdua tadi, agar mamahmu bisa lanjut mengirimkan nomormu melalui format pesan singkat, setelah nomor teleponmu sudah aku terima, aku lanjut dengan sedikit ragu memberanikan diri menanyakan apakah kamu tinggal di sana bersama suami atau bagaimana? Ingin memastikan bahwa kamu sudah menikah  atau balum, langsung mamahmu menjelaskan bahwa di sana kamu sendiri sedang kerja, sedangkan anakmu tinggal bersama mamahmu di kota barat ini, dan beliau menjelaskan juga bahwa kamu sendirian yang membesarkan anakmu. Walaupun aku sudah prediksi itu adalah kemungkinan jawaban yang akan aku terima tapi aku sempat sedikit tertegun ketika mengetahui bahwa kamu sudah menikah.
Begitulah caraku mendapatkan nomormu, syukur aku dimudahkan, tapi jikalau aku belum dapat nomormu pada waktu itu, aku sudah berencana untuk berkunjung ke toko mainan anak-anak tempat dulu kamu bekerja, memang sudah lama kamu bekerja di tempat itu dan ada kemungkinan juga kamu sudah ganti nomor, tapi aku usahakan apapun untuk bisa tau kabarmu.
Kamu tahu foto pijakan kaki yang aku kirim itu? Itu aku menyempatkan diri untuk melewati tempat dimana kita dulu pernah janjian untuk bertemu pertama kalinya, iya foto yang kukirim itu tempat pertama kali kita sengaja untuk bertemu, mungkin saat kita masih menginjak umur 9 tahun, ternyata tempat itu masih ada dan bertahan sampai sekarang, tempat kita duduk berdua bersama untuk pertama kalinya, tempat sederhana berupa beberapa tingkatan untuk pijakan kaki, yang fungsinya supaya bisa masuk ke dalam rumah. Aku merekonstruksi dengan ingatan tentang semua kejadian malam itu, aku ingat minta didampingi oleh temanku si Adhitya, karena aku diliputi rasa gugup yang mendebar itu kala pertama kali akan bertemu serta bertatap muka langsung denganmu, aku tak membekali preteks sedikit pun untuk bertemu denganmu, aku hanya ingin bertemu dan tidak tahu mau ngapain nanti saat sudah ketemu.
Tak begitu lama dari kejauhan kamu pun nampaknya datang, kamu bergelagat sedang mencari orang dengan gestur sedikit clingak-clinguk menengok di antara celah dua gapura yang ada di ujung jalan raya lalu meyakinkan bahwa akulah yang sedang duduk menunggu itu atau bukan, karena tempat ketemuan kita dulu saat malam hari memang masih cenderung gelap & kurang pencahayaan. Aku melambaikan tangan sebagai kode bahwa memang benar aku adalah orang yang sedang kamu cari, lalu kamu pun mendekat perlahan menghampiri sambil menyebut namaku untuk meyakinkan lagi bahwa orang itu adalah benar-benar aku. Setelah itu aku menawarkan kamu untuk duduk di sampingku, lalu kita pun terdiam cukup lama dan tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Aku meminta menyentuh telapak tanganmu, dan telapak tangan kita akhirnya saling bersentuhan, saling menggenggam, begitu halus tanganmu, tanganmu sangat lembut. Sampai hari ini pun aku masih ingat tangan lembutmu Tami, sehingga rekaman lama tentang kita berdua yang sudah kuputar ulang itu membuatku sedikit kesal, sesudah mendengar kamu bercerita, ketika aku cerna ternyata jalur hidup yang telah kamu jalani selama ini sangatlah tidak layak untukmu.
Kenapa dunia berani-beraninya congkak kepadamu? Berani-beraninya dunia mencampakkan orang pertama yang mengajariku tentang cinta? Kenapa dunia bersikap keras kepada orang pertama yang mengajariku untuk memberikan dua batang coklat tanpa mengharapkan imbalan?
Kenapa dunia sangat keji terhadap orang pertama yang mengajarkan kepadaku untuk tulus memerhatikan orang yang dicintainya tanpa perlu ingin diperhatikan balik?
Kenapa dunia?
Kenapa?
Dunia camkan! Sekarang dia adalah orang pertama yang dapat meyakinkanku untuk menghinakanmu dunia!
Tami dengar, walaupun kamu sekarang berubah tidak seperti pertama kali seseorang yang aku kenal, bahkan jika setelah itu kamu kembali lagi menjadi Tami kecil yang aku kenal, itu tak akan bisa menganulir sedikitpun akan bukti bahwa kamu orang pertama yang mengajariku tentang cinta.

Alkisah Tami.
Iya Tama, benar, aku sudah menikah dan dikaruniai anak, tahukah kamu Tama, jika anakku sekarang sedang belajar di Sekolah Menengah Pertama bekas tempatmu dulu saat masih belajar tentang pendidikan dasar? Tempat dimana aku bersama kedua sahabatku pernah mengintip untuk melihatmu melalui celah-celah yang terbuka di pojokan dinding sekolahmu itu. Aku sekarang adalah pribadi yang sangat bersyukur bisa menafkahi anakku dengan seorang diri dan bisa menyuapi langsung semua keperluan anakku lalu bisa dipastikan tersampaikan karena adanya bantuan perantara perpanjangan tanganku yaitu Mamahku, iya sudah aku ceritakan kepadamu pada saat itu, bahwa aku sedang tidak ada di Kota tempat kita tinggal, aku sedang kerja di luar pulau, aku sedang fokus ingin memberikan yang terbaik untuk anakku walaupun sekarang sudah ada program bantuan pemerintah untuk anak sekolah yang tidak mampu, tetapi aku tidak ingin menggantungkan semua harapanku pada kebijakannya pemerintah, aku ingin merasa sedikit tenang karena bisa berperan dalam memastikan jalan-jalan mana saja yang harus dilalui oleh anakku. Wahai buah hatiku, kelak kau tidak akan pernah melalui jalan yang dulu pernah mamah alami dan rasakan.
Seperti yang sudah aku ceritakan padamu sebelumnya Tama, saat aku sudah duduk di tingkat SMA kelas 2 aku mengalami bagaimana rasanya putus sekolah, karena memang orang tuaku dulu tidak ada biaya serta pada saat kita SMA dulu belum ada yang namanya program bantuan pemerintah. Singkat cerita setelah aku putus sekolah, akupun bekerja di sebuah toko mainan anak-anak dekat rumahku dulu, iya daerah rumahku yang baru saja kamu kunjungi itu, lalu aku menikah pada tahun 2008, akhirnya kisah rumah tanggaku hanya bisa terakumulasi sampai dengan tahun 2017, aku berpisah dengannya.Lumayan lama memang, tapi yang sudah terjadi mau bagaimana lagi kan? Tinggal terima saja.
Tama maafkan diriku jika setiap tulisan-tulisan yang aku ketik di media sosial yang berima negatif mengganggumu sampai kamu sempat menanyakan dengan bernada keberatan setelah melihat beberapa foto unggahanku di Instagram yang didominasi dengan tulisan keterangan ketergelisahan, depresi dan sangat murung, walaupun setiap foto yang aku unggah kamu bisa melihatnya sendiri sangatlah kontras dengan semua tulisan atau keterangan fotonya yang nampak sangat ceria, berbahagia dan sangat berwarna. Mungkin benar apa yang kamu katakan Tama, aku seperti tanaman kaktus yang nampak tahan banting walau di situasi kering kerontang sekalipun, tetapi nyatanya di sisi yang terdalam, aku orang yang lembut, peka dan sangat sensitif.
Tama, aku sudah banyak berubah, mungkin yang sangat mencolok adalah kamu sudah melihat sendiri permukaan bentuk fisik aku yang sekarang gemuk, tak seperti dulu lagi seorang Tami kecil yang kamu kenali. Pandanganku tentang cinta pun sudah bergeser, aku yang dulu sangat percaya akan kekuatan cinta, cinta yang bisa membuatku bergerak hanya sekadar ingin melihat wajahmu, cinta yang bisa membuatku berani keluar sendirian di malam hari untuk menemuimu walaupun aku tahu saat itu kedua orang tuaku akan sangat menentang jika aku keluyuran sendirian pada malam hari.
Tama, aku berani saat itu dengan aku yang berani sekarang memang berbeda, ya aku bisa merasakan pemicunya apa untuk masing-masing pendorongnya, dan pemicunya memang berbeda. Tama, bahkan aku sekarang cenderung untuk ikut mencemooh jika mendengar kisah orang-orang yang sedang jatuh cinta tetapi tidak dilengkapi dengan seperangkat jaring pengaman harta benda atau yang biasa sering disebut materi, aku anggap mereka sebagai bucin, bucin budak cinta yang nampaknya mereka hanya menghabiskan hari-harinya untuk kegiatan yang banyak dianggap orang sebagai kegiatan yang tidak berguna.
Kamu sudah mengetahuinya sendiri kan bahwa hatiku sudah dikunci? Dan aku sudah menunggu sangat lama kapan waktunya hatiku ini bisa dibuka, aku menunggu terus sampai hatiku yang terkunci itu malah pecah berkeping-keping berserakan dengan sendirinya. Anehnya kamu datang saat ini dan malah menawarkan diri untuk mengumpulkan seluruh kepingan hatiku yang telah hancur itu dan ingin merekatkannya kembali dengan perekat yang tidak ada tandingannya, yang aku sendiri tidak mengetahui bagaimana cara memperbaikinya. Apa kamu sudah gila Tama? Kenapa ketika kamu sudah mengetahui perubahanku yang sangat berbeda ini, kamu masih ingin bertemu denganku? Dan malah tidak sabar ingin bertemu secepatnya, walaupun sudah aku kasih tau bahwa aku bisa pulangnya 6 bulan dari sekarang yaitu bulan Maret dan akupun sampai memastikan kepadamu bahwa aku akan mengabari jika aku pulang. Tama kubilang sekali lagi bahwa sekarang aku sudah berubah, apa sih yang masih kamu lihat dariku Tama? Mengapa kamu masih bersikeras ingin bertemu dengan diriku yang saat ini? Mengapa? Apa aku harus menunggu 6 bulan untuk mendapatkan jawabannya? Atau kamu yang ke sini agar aku tidak perlu menunggu lama selama 6 bulan. Tama tolong jawab semua yang aku pertanyakan! Tama jawab aku sekarang!

Itulah sedikit tulisan kisah Tama & Tami yang menceritakan tentang anak sekecil mereka tetapi sudah diberi suguhan yang dinamakan cinta, sesuatu yang tidak akan terhalang oleh fisik dan karena cinta tidak terhalang oleh fisik, apakah cinta itu bisa disebut sebagai anti-materi? Sesuatu yang bisa disebut paling mahal di muka bumi ini.
Kalau begitu kisah cinta Tama & Tami yang mengalami fenomena anti-materi ini mungkin sangat mustahil ditemukan oleh anak-anak fisika dong?
Tama & Tami membuktikan cinta bisa membuat mereka menjadi payah dalam berkosa-kata dan mungkin juga cinta bisa membuat tidak lapar.

TamaTami Buah Kenangan yang Meraung
Bandung, september 2023
dkmgn

Comments

Popular Posts